Tampilkan postingan dengan label Gelisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gelisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2026

Melantur itu Penting

09.51

Saya membuka Microsoft Word dan mulai mengetik apa pun yang ada di dalam pikiran: penting atau tidak, bagus atau jelek, puitik atau berantakan, saya tak peduli. Semua yang ada dalam pikiran harus berbaris rapi untuk keluar, serupa prajurit yang menuju pantai; menuju ombak; menuju bunyi yang, kata Dee Lestari, paling putih untuk meleburkan segala kegaduhan duniawi.

 

09.54

Kamis, 21 Mei 2026, semua deadline berjejalan masuk seolah mereka tersedot hukum gravitasi, menuju satu titik, dan, yang bertanggung jawab, kepala saya. Ada borang—lagi dan lagi, lalu tiga jurnal yang sedang bersiap terbit dan naskahnya masih berantakan, lalu tugas kuliah, lalu tugas lain terkait fakultas, dan chat-chat dari berbagai penjuru—dan menuntut untuk segera dijawab. Ditambah, masa politik kampus tampaknya sedang memanas.

 

Saya, entah mengapa, terlibat dalam semua rincian medan tersebut.

 

10.00

Jumat, 22 Mei 2026, suasana pikiran masih penuh dengan gemuruh, tidak ada jalan keluar meski semua sedang diusahakan terkejar. Saya menuju masjid kampus sendirian dengan kepala tertunduk dan ekspresi kosong. Saya melakukan perjalanan ke masjid lebih awal dari biasanya; suasana sendirian mungkin bisa mengendurkan ketegangan ini. Saya pun keluar dari masjid lebih lambat dari biasanya, sambil merenungkan… bagaimana mengembalikan senyuman ini?

 

10.04

Beberapa tahun lalu, tampaknya, adalah tahun yang terlihat menarik: saya menulis jadwal sehari-hari, dan isinya hanya belajar menulis, membaca, menulis, membaca, menulis, membaca. Jika ingatan saya tidak meleset, itu terjadi ketika awal tahun 2021, sebelum kuliah tingkat magister, setelah pulang dari Pare, Keidri. Di masa-masa itu, isi kepala lebih banyak terkuras untuk berpikir tentang apa yang perlu saya tulis di blog, apa data yang perlu saya cari, pikiran filsuf siapa yang relevan untuk diajak bercakap-cakap.

 

10.08

Anda tahu, di masa itu belum ada AI, atau jika ada, belum semasif sekarang—wong saya menulis tesis tanpa bantuan AI, baik dari narasi maupun data. Dan saya senang dengan fakta tersebut. Di masa itu juga, Tulisan-tulisan di media sosial tampak masih murni manusia: jika ia penulis bagus, maka tulisannya benar-benar bagus. Jika ia tidak bisa menulis, ia benar-benar tidak bisa menulis. Sekarang, kita dikelilingi oleh mesin.

 

10.11

Bagi saya, menulis esai adalah perkara sakral. Ia harus steril dari intervensi AI. Jika harus berlomba menulis esai dengan AI, saya masih merasa bisa menang. Ia cepat, saya lambat; ia efisien, saya lambat; ia mesin, saya manusia, dan itulah mengapa tulisan esai kami pasti berbeda, dan itulah mengapa tulisan mesin hampir sama.

 

Secara umum, saya tidak perlu menggunakan detektor AI untuk mengetahui apakah sebuah tulisan dihasilkan oleh si empu atau AI—khusus untuk orang yang kenal. Biasanya, saya dapat mengenali tulisan teman saya tanpa bantuan detektor AI. Setiap manusia memiliki sidik jari tulisannya sendiri. Seluruh aspek yang khas, atau, sebaliknya, seluruh aspek yang terasa belum matang. Belakangan, banyak teman-teman saya menggunakan tulisan hasil mesin: tak bernyawa. Pembaca awam tak akan mengenalinya, tetapi siapapun yang menekuri kalimat sejak lama, dan mengenal sidik jari seorang teman, tak butuh waktu lama untuk mendeteksi.

 

10.15

Kita dikepung oleh tulisan mesin. Ajaibnya, itu tidak mengurangi intensitas pekerjaan. Padahal, saya sudah banyak menggunakan AI untuk mengerjakan tugas-tugas administrasi, tetapi semakin banyak tugas selesai, semakin banyak tagihan yang muncul. Dan banyak hal membuat kita tak bisa beranjak dari sebuah tempat. Kita terpenjara—mungkin dalam arti harfiah. Anda tahu, tempat yang tidak kita tinggalkan adalah penjara, bukan?

 

10.18

Sebagian penjara mungkin akan membuat kita tumbuh, sebagian membuat kita makin tersiksa—tetapi kita harus tetap berpura-pura baik-baik saja, bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri. Bahkan ketika kita menjadi diri sendiri dalam kehidupan paling privat, manusia selalu berpura-pura menjadi diri sendiri.

 

Saya mengingat kalimat itu—entah siapa yang pertama kali mengucapnya. Belakangan, banyak hal menarik yang mudah terlupakan. Yang kita ingat hanya deadline, sebab manusia adalah mesin pemuas deadline.

 

10.21

Siapa deadline itu? Sosok yang membuat kita berpura-pura bahkan dalam kehidupan paling privat kita. Sebab ia sosok yang membuat kita tak mampu berpikir jernih lagi, dan kita berpura-pura baik-baik saja dengan perubahan diri kita yang semakin mekanis. Jika Anda ada di kampus, terutama di fakultas filsafat, dan mengatakan dengan sangat lantang bahwa 10 tahun lagi Anda akan menjadi pemikir sekelas Sartre, atau Anda akan menjadi kritikus sekelas Pablo Neruda, Anda adalah mahasiswa normal.

 

Kampus adalah tempat di mana seseorang berusia 21 tahun, belum menyelesaikan skripsi, tetapi bisa yakin akan menjadi Sartre berikutnya.

 

10 tahun berikutnya, jika ternyata Anda bekerja di mesin kapitalisme yang serba cepat, Anda mungkin akan mengubur kalimat-kalimat Anda sendiri. Karena Anda berubah? Sepertinya tidak, itu hanya efek api yang semakin diredupkan oleh berbagai kegiatan mekanis, dari mengisi rumus-rumus Exel, hingga mencatat notulensi rapat yang mungkin tidak akan pernah dibaca kembali. Orang bisa melakukan sesuatu yang sangat penting, dengan ekspresi orang penting, meski yang ia lakukan adalah memindah map dari meja administrasi menuju meja makan.

 

Lupakan. Intinya, kapitalisme bisa mengubah calon filsuf kita menjadi orang yang sibuk seperti mesin fotokopi.  

 

Demi tuhan (dengan t kecil), panjang umur pikiran Karl Marx.

 

10.29

Sekarang hari Jumat, 29 Mei 2026, deadline masih belum mereda, chat-chat masih berjejalan, tetapi dua hari ini saya memilih untuk tidur, mengistirahatkan pikiran, dan mencoba untuk melihat diri sendiri di masa lalu, melalui blog ini.

 

Ada diri sendiri yang tampak ringan sekali bercakap-cakap dengan Erich Fromm, untuk membahas hal-hal remeh sehari-hari. Ada diri sendiri yang tampak akrab mengutip Nietzsche demi mengurai satu masalah di sekitar. Ada Manuel Castell di beberapa bagian. Ada beberapa bacaan buku yang terolah sedemikian rupa.

 

10.33

Tampaknya, diri sendiri di masa lalu memang lebih banyak memikirkan hal-hal yang hanya bisa dipikirkan ketika kondisinya masih tidak menghadapi borang, beberapa jurnal, dan politik. Tetapi, diri sendiri akan mengatakan pada diri sendiri versi hari ini, untuk tetap berjalan, tertatih, babak belur, dan sesekali mengusap keringat mata.

 

Masih ada riset doktoral yang perlu dipikirkan. Dan jangan menjadi doktor gadungan yang tidak memahami apa itu riset yang bagus. Tolong tanyakan kepada doktor yang Anda kenal, apa itu riset yang bagus. Jika jawabannya bagus, ia layak menjadi doktor asli—bukan gadungan.

 

Di Indonesia, Anda tahu, terlalu banyak sosok gadungan, baik untuk konteks politik, agama, maupun kampus.

 

10.37

Apa itu riset baik? Ialah riset yang tidak akan terjadi jika Anda tidak melakukannya.

 

10.38

Ya, wahai diri sendiri, kau perlu memikirkannya. Tetapi, sebelum itu, mari kita lihat dirimu hari ini. Mari, tatap baik-baik semua kerimutan deadline di depan mata ini, lalu, siapkan bantal dan tarik selimut dengan khidmat.


Senin, 06 Oktober 2025

Kognetariat di Bawah Langit Kampus

Kamis, 10 Oktober 2024, saya bangun seperti biasa, meski “biasa” itu sebenarnya lebih mirip gelitikan semesta seumur hidup daripada rutinitas. Setelah berduel singkat dengan pekerjaan rumah tangga, piring kotor yang menatap saya dengan tatapan penuh dendam, misalnya, saya bergegas ke kampus. Kelas pertama dimulai pukul 07.40 dan tidak boleh ada yang terlambat di kelas ini.


Kelas pertama hari itu adalah Literasi Digital, proyek massal dengan 90 mahasiswa—yang terbagi menjadi tiga kelas—dan tiga pengajar yang ditugaskan melahirkan artikel penelitian. Proyek ini cukup ambisius dengan bayangan tiga kelas ini beroperasi seperti lab-parbik tulisan.


Kami memulai dari “roadmap” riset, istilah mewah untuk peta yang segera dipenuhi berbagai jalan buntu. Dari roadmap, mereka harus menurunkannya menjadi topik, judul, metode, lalu artikel penuh. Rangkaian ini memang mirip sebuah maraton yang bahkan pelari profesional mungkin akan ngos-ngosan.


Belum sempat bernapas lega, kelas Academic Writing sudah menanti: 2 SKS yang berlangsung dari 09.20 hingga pukul 11.00.


Hari itu saya masuk kelas Academic Writing tanpa PPT dan membuka website kampus dan kementerian sebagai contoh kasus paragraf-paragaf. Ternyata membaca tulisan mereka lebih berbahaya daripada minum kopi basi: kalimat pendek tak lengkap yang membuat frustasi, kalimat panjang penuh keruwetan—mungkin begitu hidup penulisnya, makna hilang yang pergi entah kemana, dan logika yang tampaknya ikut cuti liburan.


Kami kemudian membedah mengapa tulisan ini jelek dan membuat kami ingin memanggil tukang pijat refleksi bagi otak atau mengapa tulisan ini cukup bagus dan membuat kita punya harapan terang tentang masa depan Endonesa meski ada pula yang terpaksa saya edit langsung di depan kelas—dengan memancing partisipasi mahasiswa.


Academic Writing berlalu dan kelas berikutnya yang berlangsung selama 11.00-13.30 tentang Sejarah Islam di Spanyol sudah menunggu. Tetapi, saya harus keluar lebih cepat demi acara fakultas, dengan alasan suci: salat sekaligus menghadiri acara pengelolaan jurnal. Pukul 12.50 saya titipkan diskusi via grup, lalu bersyukur karena mahasiswa tetap bertahan sampai 13.30—suatu keajaiban kecil di tengah abad digital, ketika konsentrasi kita mudah bubar sejak menit ketiga.


Pukul 15.09 atasan mengirim pesan: “Bisa antar dan menemani Prof. G setelah beliau menguji disertasi?” [huruf G bukan inisial asli. Jika saya menulis inisial lengkap, apalagi nama terang, kemungkinan besar Anda akan langsung mengenalinya.]


Tentu saja bisa—jawaban ringan untuk mentor terbaik—meski saya masih terkurung acara dan meminta waktu tambahan. “Santai saja,” katanya, kalimat yang bisa saja berarti tidak santai sama sekali karena terkait orang penting. Setelah mencatat komentar reviewer dan membalas pesan mahasiswa yang mampir seperti iklan, akhirnya pukul 15.50 kami meluncur menjamu Prof. G. Di situ saya baru sempat makan, karena rupanya manusia memang tidak bisa hidup hanya dengan laptop.


Pukul 16.24, Mas Ahmad Muhammad—teman karib sekaligus misteri berjalan—menelepon: “Aku sudah di kampus, menuju fakultas.” Sebelumnya, saya sudah memberi kabar bahwa harus antar Prof. G ke stasiun. Entah dorongan apa yang membuatnya tetap datang; mungkin naluri intuitif yang tidak terlalu bisa saya percaya sebab ia belum sepenuhnya sufi. Setelah urusan selesai, saya memecah jalanan menuju kampus dan tiba pukul 18.19. Kami menuntaskan pekerjaan yang entah apa, lalu ia pulang dan saya menuju kantor yang sepi seperti kota Pripyat. Merebahkan pinggang sebentar jadi hadiah lotre hari itu, sebelum kembali ke lembur administrasi, pekerjaan yang lebih setia daripada kawan sekalipun.


Saya kira itu sudah cukup untuk satu Kamis, tetapi Kamis-Kamis lain kadang datang lebih dramatis—seolah hari itu punya dendam pribadi.


***

Rabu sore, 24 September 2025, sebuah telepon masuk untuk meminta saya menjadi moderator acara seminar prodi. “Besok saya full mengajar dari pagi hingga sore,” kata saya. Tetapi sepuluh menit kemudian flayer dan lokasi sudah dikirim seolah saya sudah tanda tangan kontrak. MC belum ada, moderator belum ada, penyambut tamu juga nihil, dan mungkin meja-kursi pun masih bingung harus ke mana.


Lalu Kamis pagi tiba dan pagi-pagi buta saya sudah menunggu mahasiswa di ruang baca. Dalam konteks ini, saya terlibat sebagai duet tim mengajar bersama Pak Mir (bukan nama asli) dan beliau datang belakangan, itupun untuk memberi instruksi pengalihan perkuliahan ke acara seminar prodi. Akhirnya, saya menjadi moderator—padahal saya baru menemukan seorang kawan yang menyanggupi pada detik-detik akhir. “Sampean saja, Mas. Kawal mahasiswa kelas ini untuk bertanya tentang jurnal.”


Kelas petama pagi itu akhirnya beralih ke ruang seminar. Sementara kelas 09.20 masih diampu Pak Mir—sendirian.


Perlu diketahui, menjadi moderator adalah persoalan “kecil”: kita mengenalkan narasumber, menjelaskan konteks dan arah diskusi, mengawal tanya-jawab, serta mengatur waktu. Masalahnya, hari itu saya belum sempat sarapan dan jantung saya berdetak tanpa ritme normal. Yang terakhir akan menjadi cerita tersendiri nanti. Intinya, saya sedang tidak baik-baik saja.


Ketidakbaik-baik-sajaan tersebut harus tetap menjadi baik-baik saja karena satu dan dua hal.


Narasumber pertama yang saya moderatori selesai kisaran pukul 11.00 dan saya mengabari Pak Mir karena beliau perlu mengawal narsum tersebut sebelum pulang: beliau bedua adalah kawan karib. “Ayo kita kembali ke kelas,” kata saya pada mahasiswa yang tadi saya ajak ke forum ini. Sedangkan kelas kedua yang diampu Pak Mir, ternyata, masih belum beres. “Masih ada dua naskah mahasiswa yang belum saya review, apa bisa sampean lanjutkan, ya?” tanya Pak Mir. 


Saya langsung menuju kelas, menyelesaikan bimbingan kepada naskah dua mahasiswa, lalu memasang wajah diplomatis meminta kerelaan mereka untuk segera keluar karena jatah jadwal untuk kelas pertama harus saya bereskan juga. Kelas baru selesai pukul 12.57 dan kelas ketiga sudah menanti pada pukul 13.00.


Kelas pertama dan kedua bernama Publikasi Ilmiah, kelas ketiga bernama Literasi Digital dan semuanya punya misi sama: memeras otak sampai tinggal ampas. Dosen pusing memberikan review, mahasiswa pusing menerima hasil review. Di kelas Literasi Digital, saya menjadi penjaga “gawang” objek riset mahasiswa dan menentukan apakah mahasiswa bisa lolos untuk masuk tahap berikutnya di kelas Pak Mir. Pukul 15.47 tubuh saya hampir tumbang dan sarapan adalah keputusan paling bijak di bawah langit saat itu. Setelah makan, saya bergabung di kelas Pak Mir yang berisi mahasisa "alumni" kelas saya. Dan kami memutuskan membubarkan kelas pukul 16.15. Karena sudah sore? Bukan: mahasiswa lain sudah antre di sekitar kantor.


Saya izin salat Ashar lantas menyadari lupa salat Zuhur! Astaga. Saya menepuk jidat dan menarik nafas dalam-dalam sedangkan ritme jantung masih tampak tak bersahabat.


***

Hari-hari saya, dan jutaan hari-hari orang lain di bawah langit, kira-kira berjalan seperti itu—dan pelan-pelan menjadi aktivitas “normal”. Mereka mungkin tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi, atas apa yang dijalani, atas apa yang diingini, atau, dalam bahasa Marx: teralienasi.


Sekarang kita tahu bahwa alienasi, ternyata, bukan monopoli proletariat. Marx membayangkan kelas pekerja menjual ototnya demi upah, tetapi di zaman ini yang dikuras justru pikiran. Toffler menyebut mereka “kognetariat”, Piliang menambah bumbu postmodernnya: kelas pekerja intelektual yang nasibnya sama saja: menjual daya pikir sampai kepala mendidih.


Well, jika proletar letih mengangkat besi, kognetariat letih mengangkat deadline.


Dan kita tahu, sosok seperti Bard dan Sȍderqvist menyebut kognetariat memiliki berjibun keuntungan sebab mereka—atau kita—selalu bisa “memperbarui” diri melalui jaringan informasi. Tetapi, Pak Bard dan Pak Sȍderqvist juga perlu tahu bahwa kelebihan ini menyimpan paradox: subjek kognetariat bisa tenggelam dalam arus informasi, mengikuti logika informasi, dan hilang dalam arus jaringan… tanpa mampu melakukan proses refleksi, mengajukan kritik, dan mengolah kesadaran.


Lalu, kesadaran semu menjangkit dan potensi kesadaran yang lebih dalam tereduksi menjadi sekadar respons instan terhadap aliran data. Dengan kata lain, alih-alih menjadi aktor yang memaknai informasi, kognetariat justru rentan tereduksi menjadi perpanjangan dari algoritma yang mereka ikuti. Dengan kata lain lagi, kita semua berpotensi menjadi mesin-mesin modern.


Alienasi di satu sisi, dan beban kognetariat pada sisi lain, menciptakan lingkaran setan: kerja kognitif dijalankan secara repetitif dan mekanis, bukan reflektif dan kreatif. Aktivitas berpikir justru berisiko mengalami stagnasi dan penumpul­an, terutama ketika kesadaran kritis terhadap proses kerja itu sendiri absen.


Dan semua bisa dimulai dari orang-orang senasib dengan saya, yang sama-sama mengalami Kamis 10 Oktober 2024, atau Kamis 25 September 2025, serta hari Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu, yang juga sama saja dengan kedua Kamis itu. Lantas, sudah kita bertanya diam-diam: apakah kita masih manusia yang berpikir, atau sekadar mesin yang menandai tanggal di kalender?

Sabtu, 08 Juni 2024

Menunggu Pak Wadir

Belakangan ini saya mendapat banyak pengalaman baru, sambil muncul buntut ketakutan baru: saya makin segan chat dosen. Ketika masih mahasiswa, sebelum mengirim chat pada dosen, saya akan berpikir panjang sebelum mengirimnya, sekarang proses berpikir itu malah makin panjang.


Sejak makin dalam menyelami dunia kampus, saya mengalami langsung tanjakan-terjal-tugas-pekerjaan dosen. Jika Anda kaprodi, Anda nyaris tidak punya waktu untuk mengerjakan hal-hal di luar kewajiban kampus selain menunaikan hajat-hajat hidup. Jika Anda kaprodi yang mayoritas mahasiswanya bermasalah, baik karena kepribadian mereka atau masalah hidup mereka, Anda tidak pernah menemukan pintu istirahat di kampus.


Karena itu, saya makin segan mengirim chat kepada dosen.


Beberapa waktu lalu, saya perlu meminta tanda tangan beberapa dosen untuk mengurus ijazah. Alih-alih menghubungi dosen bersangkutan, saya pergi ke bagian akademik, dan bertanya di mana ruangan terbaru Bu Dosen. Setelah mendapat koordinatnya, saya menunggu di depan ruangan. Proses menunggu ini saya lakukan beberapa kali sebelum akhirnya bertemu beliau.


Setelah mendapat satu tanda tangan, saya perlu tanta tangan pamungkas dari Pak Wadir, orang paling sibuk di Pascasarjana. Karena tahu setumpuk kerumitan yang harus dihadapi Pak Wadir, saya memilih untuk tidak menghubungi beliau dan langsung menunggu di depan kantor. Pertama-tama, saya akan mengonfirmasi kehadiran Pak Wadir kepada resepsionis. Jika ia menjawab bahwa Pak Wadir tidak bertugas ke luar kota, maka saya akan menunggu.


Hingga hari ini, setelah dua pekan, saya belum berkesempatan menemui Pak Wadir: kadang menguji, kadang keluar kota, kadang rapat, kadang dipanggil direktur, dan sederet kadang yang lain. Anda mungkin berpikir kenapa mempersulit diri sendiri, padahal chat dosen untuk konfirmasi itu sudah hal biasa.


Memang chat dosen adalah hal biasa. Tetapi, seperti yang sudah saya bilang, Pak Wadir termasuk salah satu orang paling sibuk di Pascasarjana. Sebagai orang yang sudah mengalami rangkaian kesibukan dosen—meski saya hanya bertugas bantu-bantu—saya benar-benar segan mengirim pesan kepadanya, sebab seringkali kesibukan dosen benar-benar tidak manusiawi.


Lagi pula, saya tiap hari pergi ke kampus. Jadi, jika Pak Wadir sedang bertugas, saya langsung kembali ke fakultas untuk mengerjakan tumpukan hal-hal yang harus dikerjakan. Jarak ruang Wadir dan fakultas cukup dekat sehingga saya cukup fleksibel mengambil jalur “ribet menunggu” seperti ini. Lain cerita jika saya berangkat dari rumah yang berjarak 180-an kilometer.


Di lain episode, saya pernah terlibat mengerjakan naskah bersama Pak Hendra [bukan nama sebenarnya]—salah satu dosen di fakultas saya. Ketika itu, Pak Hendra sedang menulis disertasi, dan saya harus melayout beberapa naskah penting. Karena satu dan dua hal, kami mengerjakan tugas ini bersama-sama. Ketika itu saya masih PP dari rumah ke kampus, sedangkan layout naskah ini perlu segera selesai, begitu juga Pak Hendra yang harus merampungkan naskahnya dalam hitungan jam, sehingga kami menginap di sebuah hotel.


Tentu saja Pak Hendra menghandel urusan pembayaran.


Jadi, satu malam itu kami menghadap laptop masing-masing. Setelah Pak Hendra selesai mengerjakan naskahnya, Pak Hendra harus mengirim naskah tersebut paling tidak pada lima dosen penguji untuk tanda tangan. Jadi, Pak Hendra mengirim satu naskah ke satu orang penguji untuk meminta tanta tangan. Setelah dosen pertama memberi tanda tangan, Pak Hendra akan meneruskan naskah itu pada dosen kedua, dan begitu terus hingga nanti dipungkasi tanta tangan Pak Direktur.


Pak Hendra adalah mahasiswa S3 semester akhir. Dan malam itu—malam Sabtu—adalah malam terakhir untuk Pak Hendra merampungkan naskah dan meminta TTD, sebagai syarat mengikuti ujian terbuka. Jika gagal, DO menjadi konsekuensi di depan mata. Singkat kata, Pak Hendra dihimpit waktu.


“Kenapa nggak kirim saja naskahnya ke semua dosen secara bersamaan. Nanti kita copy semua tanda tangannya. Simpel dan efisien,” kata saya pada Pak Hendra. Dan jawaban Pak Hendra membuat saya terdiam: “Saya merasa lancang, Mas. Lebih baik saya menghadapi konsekuensi terburuk, dari pada saya lancang ke dosen.” Saya menaruh hormat atas pernyataan ini.


Kalimat itu terpatri kuat di dalam kepala saya. Bahkan pada titik akhir perjuangan hidup-mati mahasiswa doktoral, Pak Hendra masih menaruh hormat tertinggi kepada para dosennya. Apakah Anda bisa mencerna sikap Pak Hendra? Padahal, Pak Hendra juga seorang dosen di fakultas. Ia bisa saja melobi beberapa orang berpengaruh, untuk mempermudah urusan ini. Tetapi jalur prosedural masih ditempuh.


Siang hari sebelum kami chek in ke hotel, Pak Hendra masih sempat membimbing mahasiswanya yang akan segera ujian skripsi. “Padahal saya sendiri dikejar deadline, tetapi ini kewajiban saya,” kata Pak Hendra. Singkat cerita, malam itu tanda tangan gagal terkumpul, tetapi pihak akademik berhasil bertarung untuk memperjuangkan Pak Hendra pada hari berikutnya—hari Sabtu.


Sebagai dosen, Pak Hendra tahu betapa banyak tugas-tugas tidak masuk akal. Itulah kenapa Pak Hendra memilih jalur pelan. Dan, begitu pula yang saya rasakan. Di tengah kesibukan ini, saya kadang sering oleng menghadapi chat mahasiswa, meski saya tetap membalasnya.


Dan karena itu, saya memilih menunggu di depan ruangan Pak Wadir.

Minggu, 29 Oktober 2023

On Time Adalah Menjaga Ritme

Hari Selasa kemarin, dengan serba terburu-buru, saya bersiap untuk ke kampus, jam mengajar mulai sejak pukul 07.40. Setelah belanja, masak, dan mandi, jam tangan sudah melaporkan 20 menit lagi waktunya kelas. Saya bergegas berangkat jalan kaki. Biasanya saya diantar kawan tetapi pagi itu ia sedang pulang.


Saya berjalan santai saja mengira waktu yang tersisa akan memihak. Biasanya memang butuh waktu sekitar 20 menit. Jarak tempat saya ke kampus tidak terlalu jauh, tetapi karena harus menyebrang jalan besar, saya harus melewati garis zebra, dan butuh memutar jalan sehingga cukup mengulur waktu. Praktisnya saya bisa saja sembarang menyebrang untuk bergegas, tetapi itu berbahaya.


Di Surabaya, Anda tahu, menyebrangi jalan besar bisa serupa berenang menyebrang sungai yang penuh buaya lapar. Bedanya, di jalan raya, Anda tidak dicabik oleh gigi buaya, tetapi diseruduk motor, atau mobil, atau truk, atau bus—yang pasti ngebut karena mengejar waktu. Well, ini serius. Menyebrangi jalan raya di kota besar memang bisa dramatis dan bertaruh nyawa.


Mempertimbangkan kebrutalan jalan raya ini, dan masih sayang nyawa [memangnya siapa yang tidak?], saya memutar untuk menggunakan garis zebra berikut klakson penyebrangan. Nah, setelah berjalan santai melintasi trotoar sambil beberapa kali dipaksa minggir karena pengguna motor nekat menaiki hak pejalan kaki, baru sadar waktu sudah mepet. Jadi saya sedikit lari-lari kecil supaya tidak telat masuk kelas.


Saya benci telat. Maksud saya… sangat membenci telat. Dalam perhitungan subjektif saya yang mungkin bisa keliru, selama kuliah S1, saya tidak pernah telat! Kecuali tidak lebih dalam hitungan jari, dan salah satu yang paling saya ingat adalah matakuliah SPI semester satu. Selebihnya mungkin saya telat di perkuliahan lain, tetapi saya yakin tidak banyak. Dua sahabat saya, Khilmi dan Mas Ahmad, menjadi saksi akan hal ini.


Dan kebencian itu bertahan hingga sekarang, saat saya mulai mengajar di kampus tempat saya kuliah. Jadi, karena masih benci telat, saya lari-lari kecil. Pagi itu saya gagal telat. Sebelum membuka pintu, saya mengengok jam tangan dan waktu menunjukkan pukul 07.39 lebih 36 detik. Saya memotretnya dengan ponsel. Masih ada 24 detik.


Ketika masuk kelas, perasaan kecewa langsung menyelimuti, sebab kelas itu hanya berisi 5-8 mahasiswi. Sudah dua kali perasaan penuh kecewa ini muncul, kekecewaan karena… entah. Kecewa karena terlalu tepat waktu? Kecewa karena saya terlalu rajin? Atau kecewa karena mahasiswa terlambat?


Jika saya menyalahkan mereka, mungkin mereka akan berdalih sedang melalukan ini dan itu. Bagaimanapun mereka telah memulai kelas sejak pukul enam pagi dan kelas saya adalah jam transisi. Bahkan, di kelas lain, perkuliahan pagi—semester satu—terbiasa telat. Sebegitu terbiasa sehingga “kesalahan” ini tampak menjadi kebiasaan normal.


Anda tahu, di tengah dunia yang gila, menjadi waras adalah kesalahan. Di tengah dunia yang semrawut, menjadi teratur adalah kesalahan. Di dunia yang abai akan waktu, menjadi tepat waktu adalah kesalahan. Dan daftar ini bisa berlanjut hingga kalian bosan.


Jadi, pagi itu, saya memendam marah yang bagi orang lain mungkin tampak seperti marah yang tidak perlu. Masak hanya gara-gara telat marah? Bukankah telat adalah budaya kita? Ya. Saya akan kecewa, marah, dan sedih menghadapi orang-orang seperti ini, terutama saat pekerjaan sedang menumpuk. Dalam konteks saya, mengajar memang bagian dari pekerjaan. Tetapi telat adalah telat, ia dapat mengacaukan ritme perkejaaan lain. Waktu diskusi akan terpotong; kelas bisa serba terburu-buru; dan seterusnya.


Bayangkan jika kita telat ketika berhadapan dengan orang yang jadwalnya sudah menumpuk, dan ia dikejar banyak tugas. Bukankah kita telah mengacaukan rangkaian kesibukan orang tersebut? Itulah sebenarnya apa yang ingin saya tekankan: bahwa telat selalu membawa kemungkinan mengacaukan kesibukan orang lain.


Padahal kesibukan itu bisa jadi adalah hidup-mati mereka; bisa jadi kesibukan itu adalah penentu hubungan mereka dengan orang lain. Jadi, kita perlu berhati-hati, sebab kita tidak pernah tahu apa yang dihadapi orang lain.


Jika dilihat dari sudut pandang tersebut, on time bukan soal kaku atau tidak kaku. Lebih dari itu, on time adalah menjaga kemaslahatan orang lain. Ini bukan hanya tentang kita, tetapi tentang kehidupan orang lain. Jika orang lain sedang sibuk, dan hampir bisa dipastikan orang lain selalu sibuk, maka akan lebih elok jika kita mengusahakan on time. Jika mereka sedang senggang, kita bisa lebih santai.


Saya juga seperti itu: akan menjadi sangat kaku ketika sedang menhadapi banyak tumpukan tugas. Dan ketika harus mengurus sesuatu bersama teman-teman, mereka biasanya akan memberi konfirmasi bahwa tidak bisa tepat waktu. Maka saya akan menyesuaikan, atau bahkan tidak perlu penyesuaian sama sekali ketika sedang longgar.


Izinkan saya memeras apa yang ingin saya katakan: tepat waktu kadang adalah soal menghargai orang lain. Karena itu, on time tidak selalu mengenai kita, ia kadang terkait dengan orang lain, yang orang lain ini terkait dengan orang lain lagi. Sedemikian rupa panjang rantai ini hingga kita perlu mempertimbangkan untuk tepat waktu.

Kamis, 19 Oktober 2023

Ilusi Pria Sejati

Berkali-kali saya terlibat obrolan asik bersama kawan, bahwa kultur partriarki ini sebenarnya tidak hanya menempatkan wanita pada sub-manusia, tetapi juga menempatkan pria pada tanggung-jawab sedemikian rupa. Mereka—para pria—berperang demi mendapat atribut maskulin; berlomba tampak kuat secara fisik dan mental; berusaha membawa kehidupan di tangan atau pundaknya—dalam arti metaforis keduanya tidak terlalu berbeda.


Laki-laki, kata Harari, selalu dituntut membuktikan kejantanannya terus menerus, dari lahir hingga liang lahat, dalam serangkaian kondisi kehidupan sehari-hari maupun kumpulan acara dan pertunjukan yang tiada habisnya. “Sepanjang sejarah, seorang laki-laki bersedia mengambil risiko dan bahkan mengorbankan hidup mereka, hanya agar orang berkata, ‘Dia memang pria sejati’.” Dengan kata lain, meminjam ungkapan orang sekarang, pria mengejar ekspektasi sosial.


Saya yakin, diam-diam, banyak pria yang tertekan dengan kultur semacam itu, terutama mereka yang belum mampu “menaklukkan” kehidupan dan selalu terhimpit banyak hal. Jadi, jika wanita ingin setara dengan pria, kadang saya berpikir, apakah mereka ingin setara dalam hal yang pria sudah lelah dengan posisi tersebut?


Jika kaumelihat pria sedang duduk dengan tatapan kosong, jelas mereka sedang mengkhawatirkan sesuatu, dan memperhitungkan solusi paling mungkin untuk dilakukan. Sambil memikirkan hal tersebut, biasanya mereka enggan berbagi masalah dengan orang lain. Bukan karena tidak butuh, tetapi karena sejak kecil pria sudah dicetak seperti itu. Dicetak siapa? Lingkungan partriarki!


Di Indonesia, pergaulan bocah-bocah “kecil” sudah dipenuhi kultur validatif. Misalnya, soal merokok. Di desa saya, dan mungkin juga di desa seluruh Indonesia, orang mulai merokok sejak remaja. Dan apa alasan remaja merokok? Karena hobi? Jelas bukan! Remaja merokok supaya mendapat pengakuan dari teman sebaya bahwa dia keren! Bahwa dia lelaki sejati! Di zaman saya remaja, bocah yang tidak merokok akan “tersingkir” dari dunia sosial mereka.


Itu hanya soal rokok, belum soal pacaran, soal tawuran, soal mabuk, dan soal-soal lain.


Di tengah cetakan sosial seperti itu, lelaki kadang enggan mengakui kelemahan mereka di depan lelaki lain, sebab mereka bisa diejek habis-habisan dan dikucilkan di tengah pergaulan. Itulah mengapa kadang mereka lebih nyaman berbagi cerita kepada wanita sebab makhluk ini jauh lebih bisa mendengarkan masalah pria. Meski demikian, tidak semua pria terbuka pada wanita, bahkan pada istrinya sendiri. Sebagian mereka memilih untuk memendam masalah, sebab tidak ingin tampak lemah di depan istri.


Kira-kira inilah yang mereka pikirkan: Jika istriku tahu semua masalahku, dan kekalutanku menghadapi semua tumpukan masalah itu, ia mungkin bisa kehilangan kepercayaan bahwa suaminya bisa menjadi tempat berlindung.


Dalam kasus pertemanan saya, belakangan, para pria mulai saling terbuka atas masalah masing-masing. Mungkin karena beban itu memang sudah tidak tertampung sehingga harus meletus. Tetapi pengakuan semacam itu jelas hanya terjadi dalam obrolan empat mata, atau mungkin enam mata. Saya kira tidak lebih dari 10 mata. Saat mereka mulai berani membuka diri, tidak jarang, ujung cerita tersebut adalah air mata.


Meminjam istilah kekinian, tiap orang pernah berada dalam titik terendah dalam hidup. Biasanya hal ini terkait himpitan kanan-kiri yang mencekik. Biasanya pula, akar semuanya adalah uang. Beberapa kenalan saya memerlukan biaya untuk persalinan istrinya, sedang ia masih kerja serabutan. Beberapa kenalan lain harus membiayai pengobatan orangtuanya. Daftar ini bisa berlanjut panjang jika kita melihat media sosial. Selain berisi pameran pencapaian, di sana juga banyak kumpulan keluh kesah.


Di Twitter yang mulai saya tinggalkan karena isinya hanya keluh kesah orang-orang, mudah ditemukan cuitan populer yang menceritakan kondisi memprihatinkan dari warga kelas menengah kebawah. Well, jika ada yang berpikir uang tidak penting, coba katakan pada mereka.


Siapa yang dianggap paling bertanggung-jawab soal keuangan? Biasanya, sih, pria. Meski sudah tak terhitung jumlah wanita yang menjadi tulang punggung. Dengan kata lain, di balik cerita-cerita sedih seperti di atas, mungkin, ada sosok penyangga keluarga yang terluka hatinya karena kalah menghadapi kehidupan. Sebagian besar dari mereka merasakan sakit hati sendirian, sebab dalam kultur partriarki, mereka dicekoki untuk menjadi pria sejati.


Karena itu, berkali-kali saya terlibat obrolan asik bersama kawan, tentang kultur partriarki, yang mungkin memengaruhi teman-teman kami.


Minggu, 01 Oktober 2023

Altruisme Pak Joni

Pada satu waktu, dalam kehidupan tiap individu di bawah langit, kita sering menghadapi pilihan-pilihan sulit yang berdampak besar terhadap bagaimana kita menjalani hidup. Pak Joni (bukan nama sebenarnya), saya kira berada dalam tegangan semacam itu.


Saya baru mengenalnya meski kami lahir dan dari rahim bumi yang sama, ialah sebuah dusun di selatan pulau Jawa; ia mendahului saya sekitar 20 tahun. Karena terpaut usia itulah kami jelas bukan teman sepermainan dan, akhirnya, kami sama-sama baru saling mengenal.


Pak Joni tumbuh dari keluarga sederhana dan sebagaimana umumnya orang desa pada era agak klasik, ia tidak memiliki minat sekolah tinggi-tinggi. Karena itu, setelah menginjak usia cukup dewasa, alih-alih melanjutkan sekolah, ia memilih untuk bekerja mencari tambahan uang, baik untuk kebutuhan keluarga besar, atau untuk keperluan pribadinya—tentu saja ia tidak mencari tambahan uang untuk kebutuhan tetangga sekitar.


Ketika makin dewasa, Pak Joni memilih merantau ke Surabaya. Ia bekerja serabutan. Bahkan pernah menjalani profesi tukang becak. Saya mendengar cerita itu ketika pertama kali bertamu ke rumahnya. “Saya juga lama di Surabaya,” kata saya. Lalu kami saling bertukar informasi di mana tepatnya kami memilih ceruk tempat tinggal di kota besar itu. Ia bilang terlalu sering berpindah-pindah tempat dengan pendapatan yang masih begitu-begitu saja. “Mungkin saya nggak cocok merantau.”


Saya menyetujuinya. Biasanya menarik becak di negeri ini, seprofesional apapun orang mengayuh pedal dan mengatur kemudi besi panjang, sulit mengantarnya pada kesuksesan finansial.


Akhirnya Pak Joni memilih pulang dan membangun bisnis pribadinya di tanah kelahiran. Singkat kata—maksud saya benar-benar ‘singkat kata’ supaya tidak terlalu panjang menceritakan proses jatuh bangun membangun bisnis—Ia sukses. Sekarang ia menempati rumah bagus dan memiliki beberapa pekerja sekaligus. Ia memberangkatkan istrinya umroh.


“Sampean nggak pengen umroh juga, Cak?” tanya Kakak saya. Pertanyaan itu keluar ketika kami memutuskan mampir di rumahnya setelah mengerjakan beberapa urusan di luar. Sebenarnya saya sedang buru-buru ketika itu tetapi Kakak selalu punya insting sosial yang sedemikian rupa tinggi sehingga ia gemar melipir ke rumah orang tiap kesempatan itu tiba, kesempatan yang kadang ia tiba-tibakan sendiri.


“Gimana, ya,” kata Pak Joni. Ia memikirkan kalimat yang ingin ia sampaikan. “Memangnya siapa orang muslim yang nggak pengen umroh. Kalau ditanya apakah pengen umroh, jelas iya. Tetapi saya segan pada tetangga dan saudara sekitar yang masih kesusahan. Dari pada mereka melihat saya umroh, mending saya bantu-bantu mereka.”


Mending saya bantu-bantu mereka karena saya tahu rasanya dihimpit kehidupan. Kira-kira begitulah kalimat Pak Joni. Rangkaian ungkapan itu membuat saya tertarik dan sejenak melupakan deadline yang mengejar. Deadline sialan yang tak pernah ada habisnya. Alih-alih memikirkan deadline, kepala saya menyimpulkan: di dusun ini masih ada orang berkecukupan yang enggan melakukan umroh karena memikirkan tetangga dan familinya yang masih berkesusahan. Apa yang terjadi di sini? Apakah istri Pak Joni tau nilai altruis yang sedang suaminya pegang?


Dari permukaan, Pak Joni mengalami sesuatu yang oleh Leon Festinger disebut konflik kognitif, ialah terjadinya konflik internal karena nilai-nilai yang ia anut sedang bertabrakan. Dalam konteks Pak Joni, umroh jelas memiliki nilai religius-spiritual yang luhur. Tetapi membantu tetangga yang kesusahan jelas memiliki nilai tak kalah luhur. Selain Pak Joni, kita sering menghadapi tegangan internal semacam ini, dalam berbagai bentuk, dalam berbagai kasus, dalam berbagai masalah.


Dan manusia selalu melakukan negosiasi dengan dirinya sendiri untuk mendamaikan konflik kognitif tersebut, dengan berbagai cara masing-masing. Kadang mereka membunuh satu nilai dan mempertahankan nilai lain. Kadang ia mencari dalil pembenaran terhadap nilai yang ia kukuhkan. Pak Joni, menurut pembacaan sekilas saya, jelas melakukan perhitungan konsekuensional.


Dan hasilnya adalah ia memilih famili dan tetangga. Bagi Pak Joni, memberangkatkan istinya umroh sudah cukup. Padahal Pak Joni sanggup jika ingin umroh bersama. Tetapi pikirannya tidak teruju pada kerinduan beribadah di tanah kelahiran Islam. Pikirannya tertuju pada nilai-nilai kemanusiaan yang harus ia tunaikan.


Tampaknya Pak Joni paham betul apa arti susah dan melarat. Mungkin ketika merantau di Surabaya Pak Joni pernah duduk menunggu penumpang becak, sambil menahan lapar, dan sedang tidak memegang uang. Pada kondisi itu ia mungkin melihat orang-orang sekitar yang serba berkecukupan dan menyimpan perasaan getir dari mana mereka bisa berkecukupan; mengapa Tuhan tidak menghadirkan doa-doanya?; dan setumpuk kegelisahan lain yang lahir dari kemelaratan.


Ia mungkin pernah kelaparan sambil melihat arak-arak orang berangkat umroh dan menggumam bahwa kadang kehidupan tidak bersikap ramah.


Karena itu, ia tidak ingin berangkat umroh di tengah famili dan tetangga yang masih serba kekurangan. Ia tidak ingin tetangga dan familinya berpikiran getir seperti itu. apalagi Pak Joni dulu adalah keluarga yang sama-sama bernasib murung. Pak Joni tidak ingin orang-orang itu berpikir bahwa ia sudah melupakan kesusahan hidup serba kekurangan.


Hidup kekurangan, bagaimanapun, membentuk cara pandang manusia. Sebagian menjadikannya sebagai pelajaran dalam melihat hidup. Sebagian menjadikannya pemupuk dendam pada kehidupan itu sendiri, yang ia lampiaskan secara serampangan sebab tidak mudah mengindentifikasi apa kehidupan yang ia dendami itu.


Pak Joni termasuk bagian pertama. Ia sepertinya tidak memiliki dendam pada hidup kesusahan. Masa kesusahan menjadi perantara Pak Joni untuk bersikap empatik dan altruis. Ia tidak ingin orang terdekat mengalamai apa yang ia alami. Dalam bayangan saya, mungkin Pak Joni berpikir, ibadah umroh memang sakral, tetapi menyambung kehidupan orang sekitar yang berada dalam tanggung-jawabnya, jauh lebih sakral.


Masih dalam bayangan saya, Tuhan akan senang pada pilihan Pak Joni.

Minggu, 30 Juli 2023

Pelajaran dari Ambisi Mandiri

Tangan yang banyak menolong kadang berakhir dengan terlalu mengatur. Begitu kira-kira kata Goenawan Mohamad dan saya menyetujuinya dengan sepenuh hati. Itulah mengapa kadang saya berambisi, sebisa mungkin, untuk melakukan segala hal sendiri. Ambisi yang pernah mengarah pada kepongahan.


Dulu, saya sering dibantu oleh orang terkait hal yang saya kerjakan, atau saya usahakan, dan bahkan dibantu terhadap hal-hal yang saya cita-citakan. Tetapi tidak ada harga gratis di dunia ini. Belakangan saya baru merasa, ada banyak kepentingan di balik bantuan-bantuan yang datang, dari yang sekedar ingin dibantu kembali—dan ini wajar saja—hingga ada yang ingin “mengikat” saya dalam tugas-tugas tertentu tanpa batas waktu yang jelas.


Sejak itu kadang saya cukup skeptis dalam menerima bantuan “besar” dari orang lain. Saya tahu mungkin ini tidak sehat sebab tidak sepatutnya kita mencurigai dengan cara pandang negatif terhadap orang-orang yang mengulurkan bantuan. Tetapi di antara orang-orang baik itu, saya kira, selalu terselip orang-orang “tidak tulus”, yang berusaha mengulurkan bantuan dalam modus hutang, dan akan ia tagih dalam bentuk lebih besar di lain hari.


Mungkin memang seperti itu dunia bekerja, selalu ada orang buruk yang bersembunyi di balik kebaikan sehingga orang yang benar-benar baik dan tulus harus terdampak dicurigai. Selalu ada orang yang merusak ketulusan hingga mengaburkan batas antara kebaikan dan keburukan… lalu kecurigaan menjangkit secara akut, sebagaimana saya tulis di sini.


Selain itu, sebagaimana kata Pram, di luar sana ada orang yang bernafsu melihat kita sukses dan menjadi orang penting karena jasa mereka. “Apa mereka tidak mampu melakukannya untuk diri mereka sendiri?” kata Pram. Ketika pertama membaca kalimat ini di buku Bumi Manusia, saya terhenyak, betapa tajam insting Pram dalam melukiskan kepentingan-kepentingan manusia yang bersembunyi di ceruk-ceruk tindakan sehari-hari.


Jadi, saya meminimalisir berbagai kemungkinan terburuk yang akan menanti saya. Tentu saja ada banyak pengecualian. Misalnya, beberapa kali saya harus menerima bantuan orang dengan perjanjian awal, apa yang menjadi konsekuensi setelah bantuan itu diterima. Dan konsekuensi itu termasuk saling menguntungkan satu sama lain. Di hadapan kepentingan semacam itu, saya tenang-tentang saja, sebab ada kesepakatan bersama.


So, yang ingin saya katakan, kita perlu menghindari hutang budi yang tidak kita inginkan.


Memang seiring perguliran usia, saya selalu berharap mampu melakukan banyak hal sendiri. Menua berarti harus melakukan banyak hal sendiri. Kapanpun saya mampu menetralisir ketergantungan negatif terhadap orang, saat itulah, saya merasa mampu tumbuh lebih baik.


Kebiasaan ini, tentu membawa kelebihan dan kekurangan. Perangai mandiri mungkin menjadi poin plus. Tetapi dalam proses pembiasaannya, saya selalu terjebak dalam banyak kesulitan. Pada titik tertentu kesulitan itu adalah sejenis kesulitan konyol, sebab seperti menjebak diri sendiri dalam kesulitan yang diciptakan sendiri. Misalnya, ketika saya memerlukan bantuan orang untuk mengantar ke terminal, perlu proses membaca situasi sedemikian panjang.


Mula-mula saya akan mencoba mencari siapa saudara atau kenalan yang agak memiliki waktu luang. Setelah itu saya akan berpikir narasi seperti apa yang kiranya pas untuk saya katakan, sesopan mungkin. Kadang, sedemikian lama proses itu, hingga saya harus ketinggalan bus dan harus mengejar cukup jauh. Itupun jika terkejar.


Ketika masa akhir khidmah di pesantren dulu—sebenarnya masa itulah kebiasaan ini mulai muncul—saya pernah menyiapkan ujian madrasah diniyah… nyaris sendirian! Di pesantren saya ada enam kelas tingkat madrasah diniyah (bagi yang mungkin belum tahu, ini sekolah informal keagamaan), dan saya sendiri masih berada di kelas enam.


[Sebagai catatan, sejak kelas empat diniyah, saya diberi tugas untuk mengajar adik kelas, karena madrasah diniyah di pesantren kekurangan guru. Jadi di samping berstatus murid, saya juga membantu mengajar—dengan demikian bertatus sebagai guru juga.]


Apa yang saya maksud menyiapkan ujian sendirian? Cukup banyak: mengumpulkan soal ujian yang dibuat para guru. Bahkan saya harus mengambil soal tersebut di rumah guru-guru demi segera selesai. Setelah itu saya mengetik soal-soal tersebut. Lalu saya mencetaknya di tempat terdekat—itupun cukup jauh. Karena kejar-kejaran, kadang soal ujian yang harus siap diujikan siang hari, baru saya ketik di pagi hari, dan baru saya cetak ketika kelas akan berlangsung.


Seringkali kertas soal ujian yang diberikan pada peserta ujian masih terasa hangat! Karena baru keluar dari mesin fotocopy. Dan cerita belum selesai. Kadang saya harus menjaga ujian di beberapa kelas sekaligus. Setelah ujian selesai saya kembali keliling ke rumah guru untuk mengantar soal supaya segera dikoreksi. Beberapa kali saya harus mengoreksi soal yang sebagian guru berhalangan mengoreksi. Lalu saya menyiapkan laporan akhir. Lalu… entah.


Kenapa saya kerjakan sendiri? Kemana guru-guru lain? Ceritanya panjang dan rumit, perlu catatan lain untuk memahami duduk perkaranya. Tetapi yang jelas kondisi terdesak itu memaksa saya untuk mengerjakan semuanya nyaris sendiri, di samping bantuan teman-teman.


Ketika masuk jenjang kuliah, saya sudah terbisa melakukan banyak hal sendirian.


Efek buruk lain saya rasakan ketika KKN. Selama 40 hari menjalani tugas di kampung orang, seperti biasa, banyak pekerjaan saya lakukan sendiri, dari mencuci terpal, merawat tempat ibadah, bersosialisasi dengan warga, hingga menyusun program kerja tim. Saya melakukan semua nyaris mengikuti insting—maksudnya saya tidak menyadari bahwa kebisaan ini melukai perasaan kawan kelompok karena mereka merasa kontribusinya tidak diperhitungkan.


Hingga ada kawan yang memberi kritik bahwa program kerja KKN di tim saya adalah program KKN satu orang saja (maksudnya program kerja saya). Itulah tamparan keras yang menyentuh kesadaran saya. Ternyata kemampuan kerja-sama saya telah menurun pesat. Kepercayaan kepada orang lain kian menyusut. Ketakutan berhutang budi pada pihak lain, ternyata, mengantarkan sikap pongah luar biasa.


Memelihara sikap mandiri termasuk usaha baik; menghindari hutang budi yang tidak diinginkan juga baik. Tetapi menafikan kemampuan orang lain dalam sebuah kerja sama tentu adalah kepongahan. Pada akhirnya saya belajar, tidak semua tangan yang menolong akan mengatur. Di samping usaha untuk kebiasaan mandiri, saya belajar, bahwa ada tangan-tangan yang memang tulus mengulurkan bantuan, dan menolaknya jelas bukan pilihan bijak.

 

 

Minggu, 21 Mei 2023

Apakah Wanita Selalu Benar?

Saya berasumsi Anda pernah mendengar ungkapan wanita selalu benar, sebab tidak peduli bagaimana caranya, “adagium” itu menyebar secepat gosip panas tingkat dunia, menggelinding dari satu telinga ke telinga lain tanpa kenal lelah. Jadi apakah wanita selalu benar? Tentu saja tidak. Masalahnya, beberapa wanita merasa dirinya selalu benar, terutama dalam konteks hubungan romantis lawan jenis.


Kita bisa sepakat bahwa ungkapan tersebut ditujukan untuk humor. Bisa saja seorang wanita posting narasi tersebut di IG-story untuk lucu-lucuan, tetapi bagaimana jika di balik lucu-lucuan itu, jauh di lubuk hati mereka, terbesit pikiran—atau setidaknya harapan—bahwa ungkapan tersebut benar?


Humor adalah humor. Ia memiliki dampak. Belakangan saya melihat sendiri dampak tersebut pada orang-orang di sekitar. Dan ketika santai muncul rasa gatal untuk merenungkannya. Jadi, meski dibuat lucu-lucuan, saya memikirkan ungkapan itu pelan-pelan. Bisa jadi apa yang saya pikirkan berlebihan. Saya berterima kasih jika Anda memiliki koreksi membangun atas apa yang akan saya tulis berikut.


Saya membayangkan ungkapan wanita selalu benar muncul karena kondisi mental tertentu, yang akarnya bisa jadi adalah kulur patriarki. Laki-laki, sebagaimana Anda tahu, mendefiniskan dan “mengatur” dunia dari sudut pandang mereka, sehingga norma-norma relasi pria-wanita memiliki ketimpangan. Dan hal tersebut telah berjalan ribuan tahun—sepanjang sejarah umat manusia.


Sebagai akibat, wanita selalu merasa tertekan dan, karena tidak setara, mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengartikulasikannya; mereka tidak memiliki keberanian untuk menyatakan ketertindasan mereka; mereka memikirkan konsekuensi buruk jika melawan para lelaki. Kondisi tersebut terus bergulir hingga muncul kesadaran baru: feminisme, yang tampil menjadi messiah, juru selamat bagi kaum wanita.


Melalui konsep feminisme, pelan-pelan, wanita mampu mengungkap seluruh kegelisahan yang telah mengendap lama—sedemikian lama hingga mungkin membentuk mentalitas mereka, mental tak nyaman berada di bawah bayang-bayang lawan jenis. Di abad ke-21 ini, pria dan wanita sudah berjalan menuju kesetaraan. Tentu saja di banyak tempat, kesetaraan masih menjadi konsep abstrak, bahkan isapan jempol.


Feminisme menjadi konsumsi kalangan tertentu. Dengan kata lain, masih banyak sisa kondisi mental inferior yang dirasakan wanita. Termasuk dalam hubungan romantis bersama pria. Pada konteks tersebut, wanita yang berada di posisi serba salah menghadapi pria, menemukan senjata untuk melawan pria: bahwa dalam menghadapi masalah apapun, “wanita selalu benar”. Kalimat-kalimat ini terus menggelinding dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, sehingga membentuk sudut pandang manusia.


Bayangkan para remaja putri yang pikirannya belum matang, lantas sering terpapar ungkapan tersebut. Apa yang terjadi? Mungkin mereka akan menempatkan diri mereka dalam posisi benar, sesuai dengan apa yang sering mereka dengar. Jadi begitulah... mereka berpikir wanita selalu benar; mereka mendapat cara jitu untuk membungkam pasangan.


Konon wanita adalah makhluk emosional yang ingin selalu dimengerti. Sifat ini membuat beberapa wanita [sekali lagi, beberapa] memiliki gaya bahasa khas: kode. Alih-alih menyatakan maksudnya secara jelas, mereka memilih untuk mengungkap samar-samar, menggunakan tanda-tanda tertentu yang mungkin hanya mereka dan Tuhan yang tahu, sambil berharap pasangan mereka peka dan mengerti.


Gaya bahasa seperti itu membuat ungkapan wanita selalu benar mendapat tempat makin luas. Jadi, jika ada masalah dalam hubungan, pria akan berada pada posisi bersalah karena gagal memahami apa maksud si wanita. Jika mereka bertengkar hebat, si wanita lantas akan menjelaskan secara gamblang apa maksud dari kode-kode rumit yang ia susun. Lalu pihak wanita menunjukkan betapa konyol si pria sebab gagal memahami kode “sederhana” itu. “Lihat, wanita selalu benar,” katanya.


Itu mirip seperti orang yang sengaja membuat lubang jebakan. Dan ketika ada orang terperangkap, si korban malah disalah-salahkan. Dalam kondisi terpojok semoga si pria pernah melihat respon singkat dari Sir Robinson: “Jika seorang pria mengutarakan pemikirannya di tengah hutan, dan tidak ada wanita yang mendengarnya, apakah dia tetap salah?" Barangkali quote itu dapat membesarkan hati si pria dan menjaga kewarasannya.


Dari kondisi mental tertindas selama patriarki, dari karakter mental wanita, lambat laun memunculkan celetukan wanita selalu benar. Lalu ungkapan tersebut diulang-ulang, digemakan, hingga mengkristal di dalam keyakinan orang-orang tertentu. Sama seperti keyakinan lain di seluruh dunia, hal tersebut berpotensi untuk menjadikan orang fanatik.


Apa boleh buat, jika timbul fanatisme, maka dibuntuti oleh kemunculan sesuatu yang oleh para ahli disebut backfire effect: tidak peduli seperti apa faktanya, selama fakta itu tidak sesuai dengan keyakinan, maka tidak akan diterima sebagai kebenaran. Well, kenyataannya, kadang fakta tidak dapat mengubah pemikiran kita.


Jadi, dilihat melalui mekanisme backfire effect, wanita menyadari bahwa dirinya tidak selalu benar. Namun karena fakta tersebut tidak sesuai dengan keyakinannya, maka akan muncul sikap defensif pada fakta. Apalagi, jika wanita sedang bertengkar. Mereka tentu terdesak untuk memenangkan polemik. Senjata apapun harus dipakai semaksimal mungkin.


Rangkaian ungkapan saya hanya spekulasi liar yang barangkali sangat cupu. Tetapi, misalnya, jika ungkapan wanita selalu benar sungguh lahir dari rahim patriarki, maka lelaki menjadi dalang utama. Karena itu, selain kesadaran dari wanita, kesadaran pria juga penting. Artinya, kaum pria perlu memberikan ruang ekspresi bagi pasangan—mungkin memasang telinga empati baik-baik untuk keluh kesah mereka.


Melalui hubungan seperti itu, muncul kesadaran untuk saling mengakui kesalahan, saling introspeksi satu sama lain. Hubungan seperti ini dapat muncul ketika pria dewasa bertemu wanita dewasa. Pada pasangan seperti itu, wanita selalu benar hanya menjalankan fungsi humor biasa. Pada pasangan lain, wanita sungguh menggunakannya sebagai senjata.


Suatu hari, Citra mengucap kalimat yang menancap kuat di kepala, terkait fenomena tersebut. Ia bilang, “Untung ya aku bukan termasuk cewek-cewek yang selalu menyebut dirinya benar atau tidak pernah salah. [ungkapan itu] seperti sebuah pengakuan bahwa perempuan tersebut lemah, tidak mampu berdiri di atas kesalahannya sendiri. Sehingga, tidak peduli seburuk apapun [kesalahan] mereka, tetap ingin diakui benar. Duh. Miris sekali.”


Saya yakin masih banyak wanita-wanita seperti Citra.