Kartografer itu memiliki kebiasaan yang sulit dijelaskan: ketika orang lain mengunjungi sebuah kota, mereka biasanya pulang membawa foto, sedangkan ia pulang membawa pertanyaan. Mengapa jalan ini dibuat sedikit melengkung? Mengapa pasar dibangun di sisi timur sungai? Mengapa sebuah gang sempit tiba-tiba berakhir di lapangan yang terlalu luas?
Baginya, setiap tempat menyimpan
logikanya sendiri dan sudah menjadi tugas seorang kartografer untuk memahami alasan jalan itu ada, di samping, tentu
saja, menggambarnya.
Itulah sebabnya ia menyukai peta-peta
lama, meski
sebagian besar terfonis salah dan gagal. Ia sadar, itu adalah peta yang dibuat oleh orang-orang yang berani menebak dunia sebelum dunia
benar-benar dipahami.
Di kamar kerjanya tergantung sebuah
peta laut yang berusia ratusan tahun. Pada salah satu sudutnya terdapat gambar
makhluk aneh berkepala singa dan berekor ikan.
“Karena mereka belum tahu apa yang ada
di sana,” katanya suatu kali.
“Makanya digambar monster?”
“Ya.”
“Padahal monsternya tidak ada.”
Kartografer itu tersenyum, sebelum
melanjutkan, “Itu justru yang menarik. Kadang
manusia lebih jujur saat menggambar ketidaktahuannya.”
Orang-orang menyukai percakapan
semacam itu dengannya.
Ia mampu membuat hal-hal biasa
terdengar lebih dalam daripada seharusnya. Tentang peta, kompas, dan arah
angin; tentang mengapa sebagian orang selalu
memilih jalan yang sama meskipun berkali-kali tersesat; tentang mengapa sebagian orang
memilih jalan memutar meski tahu ada yang lebih dekat.
Namun, ada satu hal yang tidak selalu ia
simpan dan tak pernah mengizinkan topik itu lolos dari mulutnya: dirinya sendiri.
Tidak ada yang tahu banyak tentang
kehidupannya. Ia hadir dalam berbagai pertemuan, tetapi jarang menjadi
pusat cerita; ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara dan mengingat lebih banyak daripada yang diperlihatkan dan menyimpan jauh lebih banyak daripada yang diketahui
orang lain. Mungkin karena itu orang sering merasa dekat dengannya
tanpa pernah benar-benar mengenalnya.
Suatu malam, setelah hujan turun
berjam-jam, ia sedang membereskan lemari arsip yang sudah lama tidak disentuh. Laci-laci tua berderit ketika dibuka. Kertas-kertas menguning bergeser satu
demi satu. Catatan perjalanan menggelinding mengikuti arah terbukanya
laci, disusul sketsa pelabuhan, potongan koran, dan beberapa peta yang tak pernah selesai.
Di bagian paling belakang, tersembunyi
di bawah setumpuk berkas yang nyaris terlupakan, ia menemukan sebuah gulungan
tipis yang diikat dengan tali kusam yang tak pernah asing meski lama tak
terlihat dan ingatan atas isinya membuat tangannya berhenti seketika. Sudah
bertahun-tahun sejak terakhir kali ia melihatnya. Perlahan ia membuka ikatan talinya. Kertas tua itu menggelinding di atas meja dan terhampar gambar sebuah pulau. Kecil. Terpencil. Tanpa nama.
Hanya ada satu catatan pendek yang
ditulis dengan tinta yang mulai memudar. Kartografer itu membaca catatan
tersebut untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Lalu duduk diam. Sangat lama. Di luar, hujan masih turun. Jam dinding terus berdetak. Tetapi pandangannya tidak lagi berada
di ruang kerja itu sebab tulisan pudar yang ia lihat adalah penghuni lama dan
tak perlu izin untuk merayap memenuhi kepalanya. Tanpa ampun. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh. Sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang selama ini ia berusaha
tidak ingat.
Anehnya, dari seluruh tempat yang
pernah ia petakan, hanya pulau itu yang tidak pernah berhasil ia lupakan.
