Senin, 01 Juni 2026

Fragmen #1: Kartografer

Kartografer itu memiliki kebiasaan yang sulit dijelaskan: ketika orang lain mengunjungi sebuah kota, mereka biasanya pulang membawa foto, sedangkan ia pulang membawa pertanyaan. Mengapa jalan ini dibuat sedikit melengkung? Mengapa pasar dibangun di sisi timur sungai? Mengapa sebuah gang sempit tiba-tiba berakhir di lapangan yang terlalu luas?


Baginya, setiap tempat menyimpan logikanya sendiri dan sudah menjadi tugas seorang kartografer untuk memahami alasan jalan itu ada, di samping, tentu saja, menggambarnya.


Itulah sebabnya ia menyukai peta-peta lama, meski sebagian besar terfonis salah dan gagal. Ia sadar, itu adalah peta yang dibuat oleh orang-orang yang berani menebak dunia sebelum dunia benar-benar dipahami.


Di kamar kerjanya tergantung sebuah peta laut yang berusia ratusan tahun. Pada salah satu sudutnya terdapat gambar makhluk aneh berkepala singa dan berekor ikan.


“Karena mereka belum tahu apa yang ada di sana,” katanya suatu kali.


“Makanya digambar monster?”


“Ya.”


“Padahal monsternya tidak ada.”


Kartografer itu tersenyum, sebelum melanjutkan, “Itu justru yang menarik. Kadang manusia lebih jujur saat menggambar ketidaktahuannya.”


Orang-orang menyukai percakapan semacam itu dengannya.


Ia mampu membuat hal-hal biasa terdengar lebih dalam daripada seharusnya. Tentang peta, kompas, dan arah angin; tentang mengapa sebagian orang selalu memilih jalan yang sama meskipun berkali-kali tersesat; tentang mengapa sebagian orang memilih jalan memutar meski tahu ada yang lebih dekat.


Namun, ada satu hal yang tidak selalu ia simpan dan tak pernah mengizinkan topik itu lolos dari mulutnya: dirinya sendiri.


Tidak ada yang tahu banyak tentang kehidupannya. Ia hadir dalam berbagai pertemuan, tetapi jarang menjadi pusat cerita; ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara dan mengingat lebih banyak daripada yang diperlihatkan dan menyimpan jauh lebih banyak daripada yang diketahui orang lain. Mungkin karena itu orang sering merasa dekat dengannya tanpa pernah benar-benar mengenalnya.


Suatu malam, setelah hujan turun berjam-jam, ia sedang membereskan lemari arsip yang sudah lama tidak disentuh. Laci-laci tua berderit ketika dibuka. Kertas-kertas menguning bergeser satu demi satu. Catatan perjalanan menggelinding mengikuti arah terbukanya laci, disusul sketsa pelabuhan, potongan koran, dan beberapa peta yang tak pernah selesai.


Di bagian paling belakang, tersembunyi di bawah setumpuk berkas yang nyaris terlupakan, ia menemukan sebuah gulungan tipis yang diikat dengan tali kusam yang tak pernah asing meski lama tak terlihat dan ingatan atas isinya membuat tangannya berhenti seketika. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia melihatnya. Perlahan ia membuka ikatan talinya. Kertas tua itu menggelinding di atas meja dan terhampar gambar sebuah pulau. Kecil. Terpencil. Tanpa nama.


Hanya ada satu catatan pendek yang ditulis dengan tinta yang mulai memudar. Kartografer itu membaca catatan tersebut untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Lalu duduk diam. Sangat lama. Di luar, hujan masih turun. Jam dinding terus berdetak. Tetapi pandangannya tidak lagi berada di ruang kerja itu sebab tulisan pudar yang ia lihat adalah penghuni lama dan tak perlu izin untuk merayap memenuhi kepalanya. Tanpa ampun. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh. Sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang selama ini ia berusaha tidak ingat.


Anehnya, dari seluruh tempat yang pernah ia petakan, hanya pulau itu yang tidak pernah berhasil ia lupakan.