09.51
Saya membuka Microsoft Word dan mulai mengetik apa pun yang ada di dalam
pikiran: penting atau tidak, bagus atau jelek, puitik atau berantakan, saya tak
peduli. Semua yang ada dalam pikiran harus berbaris rapi untuk keluar, serupa
prajurit yang menuju pantai; menuju ombak; menuju bunyi yang, kata Dee Lestari,
paling putih untuk meleburkan segala kegaduhan duniawi.
09.54
Kamis, 21 Mei 2026, semua deadline berjejalan masuk seolah mereka tersedot
hukum gravitasi, menuju satu titik, dan, yang bertanggung jawab, kepala saya. Ada
borang—lagi dan lagi, lalu tiga jurnal yang sedang bersiap terbit dan naskahnya
masih berantakan, lalu tugas kuliah, lalu tugas lain terkait fakultas, dan
chat-chat dari berbagai penjuru—dan menuntut untuk segera dijawab. Ditambah, masa politik kampus sedang memanas.
Saya, entah mengapa, terlibat dalam semua rincian medan tersebut. Kepala
saya makin memanas.
10.00
Jumat, 22 Mei 2026, suasana pikiran masih penuh dengan gemuruh, tidak
ada jalan keluar meski semua sedang diusahakan terkejar. Saya menuju masjid
kampus sendirian dengan kepala tertunduk dan ekspresi kosong. Saya melakukan
perjalanan ke masjid lebih awal dari biasanya; suasana sendirian mungkin bisa mengendurkan
ketegangan ini. Saya pun keluar dari masjid lebih lambat dari biasanya, sambil
merenungkan bahwa… bagaimana mengembalikan senyuman ini?
10.04
Beberapa tahun lalu, tampaknya, adalah tahun yang terlihat menarik: saya
menulis jadwal sehari-hari, dan isinya hanya belajar menulis, membaca, menulis,
membaca, menulis, membaca. Jika ingatan saya tidak meleset, itu terjadi ketika
awal tahun 2021, sebelum kuliah tingkat magister, setelah pulang dari Pare,
Keidri. Di masa-masa itu, isi kepala lebih banyak terkuras untuk berpikir
tentang apa yang perlu saya tulis di blog, apa data yang perlu saya cari, pikiran
filsuf siapa yang relevan untuk diajak bercakap-cakap.
10.08
Anda tahu, di masa itu belum ada AI, atau jika ada, belum semasif
sekarang—wong saya menulis tesis tanpa bantuan AI, baik dari narasi
maupun data. Dan saya senang dengan fakta tersebut. Di masa itu juga, Tulisan-tulisan di media
sosial tampak masih murni manusia: jika ia penulis bagus, maka tulisannya benar-benar
bagus. Jika ia tidak bisa menulis, ia benar-benar tidak bisa menulis. Sekarang,
kita dikelilingi oleh mesin.
10.11
Bagi saya, menulis esai adalah perkara sakral. Ia harus steril dari intervensi
AI. Jika harus berlomba menulis esai dengan AI, saya masih merasa bisa menang.
Ia cepat, saya lambat; ia efisien, saya lambat; ia mesin, saya manusia, dan
itulah mengapa tulisan esai kami pasti berbeda, dan itulah mengapa tulisan
mesin hampir sama.
Biasanya, saya tidak perlu menggunakan detektor AI untuk mengetahui apakah
sebuah tulisan dihasilkan oleh si empu atau AI—khusus untuk orang yang kenal. Biasanya,
saya
dapat mengenali tulisan teman saya tanpa bantuan detektor AI. Setiap manusia
memiliki sidik jari intelektualnya sendiri: bias kecil, obsesinya, serta
kesalahan yang terus diulang dengan disiplin tinggi. Mesin mungkin dapat
belajar menulis seperti manusia, tetapi untuk sementara waktu ia masih terlalu
waras.
10.15
Kita dikepung oleh tulisan mesin. Ajaibnya, itu tidak mengurangi
intensitas pekerjaan. Padahal, saya sudah banyak menggunakan AI untuk
mengerjakan tugas-tugas administrasi, tetapi semakin banyak tugas selesai,
semakin banyak tagihan yang muncul. Dan banyak hal membuat kita tak bisa
beranjak dari sebuah tempat. Kita terpenjara—mungkin dalam arti harfiah. Anda
tahu, tempat yang tidak kita tinggalkan adalah penjara, bukan?
10.18
Sebagian penjara mungkin akan membuat kita tumbuh, sebagian membuat kita
makin tersiksa—tetapi kita harus tetap berpura-pura baik-baik saja, bukan
kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri. Bahkan ketika kita menjadi diri
sendiri dalam kehidupan paling privat, manusia selalu berpura-pura menjadi diri
sendiri.
Saya mengingat kalimat itu—entah siapa yang pertama kali mengucapnya. Belakangan,
banyak hal menarik yang mudah terlupakan. Yang kita ingat hanya deadline, sebab
manusia adalah mesin pemuas deadline.
10.21
Siapa deadline itu? Sosok yang membuat kita berpura-pura bahkan dalam
kehidupan paling privat kita. Sebab ia sosok yang membuat kita tak mampu
berpikir jernih lagi, dan kita berpura-pura baik-baik saja dengan perubahan
diri kita yang semakin mekanis. Jika Anda ada di kampus, terutama di fakultas
filsafat, dan mengatakan dengan sangat lantang bahwa 10 tahun lagi Anda akan
menjadi pemikir sekelas Sartre, atau Anda akan menjadi kritikus sekelas Pablo
Neruda, Anda adalah mahasiswa normal.
Kampus adalah tempat di mana seseorang berusia 21 tahun, belum
menyelesaikan skripsi, tetapi bisa yakin akan menjadi Sartre berikutnya.
10 tahun berikutnya, jika ternyata Anda bekerja di mesin kapitalisme
yang serba cepat, Anda mungkin akan mengubur kalimat-kalimat Anda sendiri. Karena
Anda berubah? Sepertinya tidak, itu hanya efek api yang semakin diredupkan oleh
berbagai kegiatan mekanis, dari mengisi rumus-rumus Exel, hingga mencatat notulensi
rapat yang mungkin tidak akan pernah dibaca kembali. Orang bisa melakukan sesuatu
yang sangat penting, dengan ekspresi orang penting, meski yang ia lakukan
adalah memindah map dari meja administrasi menuju meja makan.
Lupakan. Intinya, kapitalisme bisa mengubah calon filsuf kita menjadi
orang yang sibuk seperti mesin fotokopi.
Demi tuhan (dengan t kecil), panjang umur pikiran Karl Marx.
10.26
Sekarang hari Jumat, 29 Mei 2026, deadline masih belum mereda, chat-chat
masih berjejalan, tetapi dua hari ini saya memilih untuk tidur,
mengistirahatkan pikiran, dan mencoba untuk melihat diri sendiri di masa lalu,
melalui blog ini.
Ada diri sendiri yang tampak ringan sekali bercakap-cakap dengan Erich Fromm,
untuk membahas hal-hal remeh sehari-hari. Ada diri sendiri yang tampak akrab mengutip
Nietzsche demi mengurai satu masalah di sekitar. Ada Manuel Castell di beberapa
bagian. Ada beberapa bacaan buku yang terolah sedemikian rupa.
10.31
Tampaknya, diri sendiri di masa lalu memang lebih banyak memikirkan
hal-hal yang hanya bisa dipikirkan ketika kondisinya masih tidak menghadapi
borang, beberapa jurnal, dan politik. Tetapi, diri sendiri akan mengatakan pada
diri sendiri versi hari ini, untuk tetap berjalan, tertatih, babak belur, dan
sesekali mengusap keringat mata.
Masih ada riset doktoral yang perlu dipikirkan. Dan jangan menjadi
doktor gadungan yang tidak memahami apa itu riset yang bagus. Tolong tanyakan kepada
doktor yang Anda kenal, apa itu riset yang bagus. Jika jawabannya bagus, ia layak
menjadi doktor asli—bukan gadungan.
Di Indonesia, Anda tahu, terlalu banyak sosok gadungan, baik untuk konteks
politik, agama, maupun kampus.
10.36
Apa itu riset baik? Ialah riset yang tidak akan terjadi jika Anda tidak
melakukannya.
10.37
Ya, wahai diri sendiri, kau perlu memikirkannya. Tetapi, sebelum itu,
mari kita lihat dirimu hari ini. Mari, tatap baik-baik semua kerimutan deadline
di depan mata ini, lalu, siapkan bantal dan tarik selimut dengan khidmat.
