“Selamat datang di tanah suci Yogyakarta,” kata Hajjah Anis.
Kami mengangkut
terminologi ibadah sakral yang seharusnya dilakukan di gurun Arabia ke wilayah
lembab Yogyakarta dan, bagi kami, hal
itu sekurangnya berbuntut satu hal: liburan kali ini berisi kelakar sejak dalam
pikiran sehingga apapun yang terjadi hanya dapat dilihat sebagai ibadah yang
keliru tempat: mengandung pahala dan dosa, menyenangkan bagi pikiran penat, dan
jenaka lahir batin.
Rika sudah membahas tiket sejak awal Januari dan tanggal tujuh ia menanyakan apakah perlu segera CO tiket dan saya terpaksa berperan seperti nabi yang membawa kabar buruk. Saya melarang sebab pekerjaan masih sering mendarat mendadak. Bahkan, setelah tanggal sembilan saya berhasil memastikan bahwa liburan jilid II dapat ditunaikan, tarik-ulur masih terjadi: saya masih perlu memastikan kondisi rumah; sedangkan radang menyambut Rika.
Jarak Banten
Jokja-sejauh 647 kilometer, angka kurang sopan untuk ditempuh
dengan tenggorokan terbakar; itu adalah jarak yang cukup jauh untuk
membuat orang sehat menjadi sakit, dan orang sakit menjadi pertapa.
Dulu, ketika ia
pertama kali ke Yogyakarta dari Banten, saya mengirim pesan: “Jika kita, entah
bagaimana, ada di Belgia, mungkin wilayah Brussels, angka 600-an KM bisa
membuat kita berada di Pilsen, Republik Ceko, dengan melewati Jerman. Ada 3
negara. Secara teknis, sampean sedang melalui rute yang sama dengan menyebrang
ke tiga negara: Jakarta, Bandung, Yogyakarta.”
Maka, untuk
membuat segala tarik ulur menjadi ringan, saya menulis teks kepadanya: Semoga
lancar perjalanan umroh ke Jokja ini [iya, saya menulisnya Jokja]. Sejak saat
itu, kami resmi menjadi jamaah umroh yang sesat, dan kelakar umroh terus
menggelinding hari demi hari hingga kami tiba di tanah Kanisius—Jumat sore
menjelang malam—tempat di mana patung salib terpajang rapi bersama gambar Bunda
Maria dan, tepat di kompleks itu, Hajjah Anis mengucap selamat datang di tanah
suci.
“Aku tadi lewat
Maospati,” kata saya—sebuah terminal di ujung timur Kabupaten rumah Anis. Mata
saya baru pertama kali menangkap suasana jalanan di kota wilayah Anis: jalanan
dua lajur diapit pepohonan rindang kanan-kiri yang bersekongkol membentuk
terowongan dari daun-daun, sekali kereta memberi interupsi perjalanan dan
kernet turun membeli kerupuk di pinggir jalan. Saya tidak dapat mendengar
percakapan mereka tetapi wajah Ibu penjual bersinar saat uang berpindah tangan,
mungkin itu rezeki pertamanya. [Meski… jika ada wajah yang
muram ketika menerima rezeki, itu
pantas diteliti sebagai keajaiban alam.]
Masuk pukul
09.12, setelah berhenti sarapan di Ngawi, pikiran mulai gelisah disertai
pertanyaan rasional: kenapa
bus non-ekonomi ini tidak masuk jalur tol? Tampaknya mereka memilki definisi “cepat”
yang berbeda dengan KBBI dan belum diakui hukum fisika. Saya berharap Pak Sopir
membelokkan bus masuk tol, lalu melesat seperti peluru.
Padahal saya
standby di terminal kisaran pukul 03.00 dini hari, dengan optimisme khas orang
yang belum dikecewakan. Armada Patas/Cepat arah Jokja baru masuk parkir pukul
03.30, dan berangkat pukul 04.50. Target tiba di Jokja pukul 10.00 mulai tampak
seperti legenda urban ketika sopir memilih jalur bawah sepanjang hutan Ngawi,
seolah ingin memastikan saya berkenalan dulu dengan pepohonan jati sebelum
masuk kota.
Pukul 12.22
saya mendarat di Janti dan fikih Syafi’iyah memberikan keringanan mengganti
salat Jumat dengan salat Zuhur jika pergi sebelum subuh. Saya berharap pergi ke
terminal tetap tehitung berangkat-sebelum-subuh sebab kadang hukum fikih bisa
melentur dengan beberapa kaidah-syarat. Tuhan tahu betapa lambatnya bus Eka Cepat
hari itu. Bagaimanapun ini perjalanan umroh lokal dan hal-hal detail terkait
ibadah—termasuk pergi sebelum subuh—harus saya perhatikan. Apa kata Hajjah Anis
nanti jika saya tidak macak religius?
Beberapa kali
Rika menanyakan apakah saya perlu berbaring dulu, ia menadapat jawaban template
berkali-kali bahwa tubuh saya tidak perlu istirahat siang. Saya dibawa ke
tempat Aziwal—setelah membeli es teler tanpa durian—tuan rumah kami bukan
“dureners”—dan mendapati sebuah ruangan puitis: sisi dinding di atas meja
terpajang gambar-gambar luapan emosi yang tampaknya lama terpenjara di pikiran
perupanya; sisi lain berisi aksesoris dan baju; sisi lain terparkir sebuah
gitar; sisi lain berjejer sebuah buku, dan di atasnya: patung Bunda Maria yang
menghadap kiblat, pemandangan yang membuat bingung malaikat pencatat amal.
“Jadi kalau
Aziwal solat, Bunda Maria jamaah, ia berada di belakang Aziwal,” kata Anis suatu
waktu, dan saya membalasnya dengan tawa besar, membayangkan bentuk ibadah combo
keduanya.
Aziwal
menceritakan detik-detik pembelian patung Bunda. Ia kebingungan setelah membeli
benda sakral tersebut, tepatnya ketika hendak memasukkan Bunda Maria ke dalam tas saat berada
di depan kasir. “Aku khawatir itu menyakiti perasaan penjaga kasir,” katanya. Aziwal berusaha menyembunyikan identitas agamanya, berlagak seolah ia adalah
domba yang taat dari kawanan yang sama. Upaya yang sia-sia. Ia membayar via dompet
digital dan terpampang jelas nama depannya: Muhammad.
Tentang mengapa
seorang Muhammad membeli patung Bunda Maria, biarkan saja menjadi cerita
tertutup.
Di tempat
Aziwal membeli patung tersebutlah mereka membawa saya nongkrong di Jumat hari
pertama umroh ke Jokja. Kami—saya, Aziwal, Rika—tiba sore hari di Kanisius setelah
bebersih badan dan menghabiskan beberapa telur gulung. “Harus masuk ke toko
buku paling tenang,” kata Rika, dengan nada orang yang tahu bahwa ketenangan
adalah kebutuhan, dan bahwa toko buku adalah satu-satunya tempat umum yang
masih percaya pada keheningan.
Di sana terdapat
beberapa koleksi buku yang sudah terparkir dalam rak buku di rumah. Aziwal
melihat rak dan etalase aksesoris hingga saya menebak-nebak apakah ia berniat
membeli patung-patung lain. Setelah menyapu rak demi rak, mata ini melihat
judul Sari Sejarah Filsafat Barat dan langsung mendeklarasikan diri di
depan teman-teman: “Aku mau nulis Sari Filsafat Islam, sepertinya itu
belum ada.”
Pandangan mata
saya tersedot pada lukisan replika The Last Supper. Saya merasa sangat mengenali karya ini berkat Dan Brown dalam bukunya Da
Vinci Code: novel yang membuat banyak orang merasa lulus kuliah teologi,
sejarah, dan simbolisme sekaligus. Dalam karya fiksi menegangkan ini, kita
tahu, sosok di sebelah kanan Yesus itu adalah perempuan, bernama Maria
Magdalena, alih-alih Yohanes sebagaimana anggapan orang banyak. Apakah itu
benar? Aziwal mungkin bisa menjawabnya.
“Tolong fotokan
sama Yesus, Rik,” pinta saya. Potret bersama dua Yesus berhasil tersimpan di
galeri ponsel, bukti otentik dari toleransi yang semoga tak kebablasan.
Kami bergeser
ke kedai. Kedua sahabat bestari saya mengeluarkan alat tempur mereka
masing-masing. Saya mengirim link G-Meet kepada mahasiswa dan kami berdua
terlibat diskusi singkat. Aziwal menghadap laptop sambil membahas entah apa
bersama Rika. Anis tiba beberapa jam kemudian. Formasi sudah lengkap dan kami
membahas sesuatu yang harus membuat kami tertawa—apapun itu.
Kali ini, kami
memasrahkan diri kepada Hajjah Anis untuk membimbing jamaah umroh ke
tempat-tempat suci dan membahagiakan. Ia memutuskan: besok naik skuter, lalu
pulangnya mampir ke Kopi Merapi. Kami beriman kepada tawaran tersebut sebab Bu
Hajjah sudah tinggal bertahun-tahun dan ia kader organik dari muslimat NU:
kadar orang Jokjanya meyakinkan meski bisa kesasar di Jokja; kadar religiusnya
tidak diragukan lagi; kadar intelektualnya? Oh: Ia menghabiskan beberapa
usianya untuk mencicipi dua program studi pada level magister: Islam Nusantara
dan Sosiologi Agama.
Dari Anis, ide
naik skuter muncul. Jadi, kita bisa menganggapnya saran Islamis yang
sosiologis, atau saran sosiologis yang agamis.
“Apa teori
sosial yang paling sulit, Ning?” tanya saya, sebuah pertanyaan yang tampak
ringan, tetapi lahir dari pergulatan setelah semester lalu saya menghadapi mata
kuliah Islam dan Teori-Teori Sosial. Pertanyaan kecil itu berbuntut panjang
hingga Bu Hajjah memberikan kuliah menyenangkan tentang riset akhirnya, baik di
Islam Nusantara maupun Sosiologi Agama. Ia mengenal Teun Van Dijk sebaik ia
mengenal Teun Van Dijk.
Jika ia lelaki,
saya akan menepuk pundaknya dan berkata ia keren. Oya, saya tidak menepuk
pundak Aziwal tentang riset segar yang ia tulis tentang terapi seni—saya tahu
juga berdasarkan obrolan tak sengaja terkait gambar garis siluet [dan hanya
garis siluet] seorang manusia yang menempelkan kedua telapak tangannya pada
tembok-kaca-penjara, seolah meratap ingin keluar. Saya takjub pada gambar di
kamar Aziwal dan ia menjawab itu buah goresan tangannya. “Kereen,” kata saya.
Dan kami sedikit berbincang tentang Van Gogh meski saya tak paham arti karya
besarnya.
Percakapan
tentang gambar tersebut terjadi Minggu pagi, hari terakhir saya di Jokja, ialah
sebuah pagi di mana saya tidak perlu membangunkan Aziwal. Di hari sebelumnya,
Sabtu pagi, saya membangunkannya pukul 08.00 WIB, waktu yang mungkin terlalu
subuh bagi kawan-kawan Jokja saya. Tetapi, di hari Sabtu, kami memang tidur
hanya beberapa jam, sebab Jumat sore di Kanisius harus bersambung hingga Sabtu
dini hari.
Ketika
detik-detik kedai akan tutup, air hujan turun, dengan semangat kerinduan 1000
tahun kepada tanah bumi. Kami terjebak di sana hingga hari Sabtu pukul 01.00
dini hari, dan memejamkan mata pukul 01.17, Aziwal baru tidur setelah azan
subuh—itu normal baginya. Lantas kami berangkat pukul 08.48 menuju tempat Bu
Hajjah, demi menyelamatkan perut yang entah kenapa di hari itu meminta sarapan
pagi. Soto Batok rekomendasi Hajjah Anis menjadi menu menyegarkan.
Kami berangkat
ke tempat skuter, menempuh waktu kisaran 40 menit. Ketika kami tiba di sekitar
lokasi dan mendapati orang-orang naik skuter, muncul keraguan di pikiran: bagi
orang yang sudah merasakan berbagai jenis motor, berbagai jenis mobil, apa
serunya naik skuter yang desainnya dicuri dari lokasi syuting Teletubbies? “Aku
nggak mau naik di jalan, males, cukup di area dalam saja,” kata Aziwal. Saya setuju
dan hendak mengikutinya.
Weekend itu banyak wisatawan menyerbu unit skuter hingga kami harus antre sekitar satu jam.
Kami sepakat untuk mencari kedai tempat nongkrong dan baru kisaran 5-10 meter
berjalan, Aziwal sudah berbelok ke sebuah tempat menyenangkan untuk ngobrol. Di
Jokja, Anda tahu, kita bisa kesandung warkop, bukan batu. Satu jam bukan
persoalan besar bagi sekawan wisatawan yang bisa saling melempar humor.
Sebelum waktu
persis menunjuk satu jam, kami memilih memasuki area taman skuter. Persis
ketika nama Anis dipanggil, mendung mulai memeluk erat langit kami. “Pernah
naik skuter?” kata penjaganya. Kami menjawab belum dan Mas-Petugas memberikan
instruksi singkat. Posisi Mas-Petugas dan Aziwal berhadapan, tetapi kawan saya
terpaku dengan wajah kosong
tanpa fokus, seolah sedang mendengarkan khotbah Jumat dalam
bahasa Tagalog.
Saya dan Anis
langsung tancap gas, sementara Aziwal mematung beberapa detik seperti tak tahu
akan seperti apa memperlakukan benda tersebut. Ia meneriaki kami untuk bertanya
bagaimana memakai kendaraan Teletubbies ini, sedangkan saya dan Anis mulai melesat
jauh.
Astaga, benda
ini tidak seburuk yang saya kira. Skuter Teletubbies jelas bukan vespa sprint
tahun 1973 yang pernah saya miliki di usia remaja; ia bukan Satria FU yang bisa
digeber 140 KM/h; ia bukan Innova Reborn senyap yang stabil melibas lubang di
lintasan pantura, tetapi skuter ini—yang dipakai dengan helm tukang bangunan
berwarna putih dan membuat kepala kami terlihat seperti telur rebus setengah
matang—mudah sekali memberikan perasaan gembira.
Dan Tuhan, yang
memiliki selera humor luar biasa, menurukan hujan dengan kadar kerinduan 1200
tahun kepada tanah bumi. Di pojok utara [atau timur? Atau barat? Entah…] Anis
menemukan tempat berteduh, ialah bagian belakang MCK yang hanya menyisakan 60
cm atap menyamping di atas. Di sanalah keajaiban terjadi: kami tertawa: menertawai
nasib aneh, menertawai helm telur rebus, dan menertawai kekagokan Aziwal menjadi
bagian dari Teletubbies.
Jarang sekali,
bagi saya, berteduh dari hujan bisa semenyenangkan itu. Bahkan satu jam
berteduh bisa terlalui dengan baik-baik saja: kami masih hidup sebagai manusia
bahagia. Ibadah tawaf kami lanjutkan dan instruksi Bu Hajjah terasa kami dengar
berulang-ulang, ialah berbaris rapi membentuk kereta empat gerbong melewati
kamera yang terpasang sehingga momen tawaf ini bisa estetik. Tentu saja kami
tidak memberikan Bu Hajjah kemudahan taat atas fatwanya, sebab rasanya
menyenangkan sekali mengendalikan benda ini sesuka hati.
Rika kehilangan
sedikit kendali dan hampir menabrak Teletubbies lain sembari minta maaf
sementara skuternya tetap berjalan sehingga memicu tawa Aziwal—yang beberapa
kali melewati kamera dan berkelakar “hidup Jokowi!” Sementara Hajjah Anis? Masih
berusaha memberikan bimbingan rohani yang baik dan benar tentang tawaf-berbaris-rapi.
Itu terjadi, tapi dengan kehendak kami masing-masing.
Skuter Teletubbies memberikan kejutan lain saat saya menyetujui tawaran Bu Hajjah. “Oke, mari kita
coba jalanan aspal bukit,” kata saya. Skuter tersebut makin cepat ketika
melewati jalan turunan dan ia memberikan sensasi unik seolah berada dalam
kecepatan 140 KM/h. Tubuh saya dipaksa menjaga keseimbangan
dengan konsentrasi penuh, seperti filsuf yang tiba-tiba diuji di laboratorium
fisika. Helm telur
rebus yang
setia melindungi batok bagian atas kepala dan selebihnya berserah pada takdir terasa kurang meyakinkan jika harus
bernegosiasi dengan aspal.
“Kurang keras teriaknya, ayo lebih lepas lagi,” kata Anis.
Jelajah skuter
memakan durasi waktu sekitar satu jam, dan dua jam jika ditambah berteduh dari hujan,
dan tiga jam jika dihitung dengan ngopi. Saatnya bergeser ke Kopi Merapi, “Sebuah
tempat di mana apa yang tak terkatakan bisa keluar semua,” kata Anis. “Ada view
gunung Merapi, jika tidak ada kabut,” kata Rika. Itu tawaran-tawaran provokatif
untuk saya bisa semangat ke sana. “Ada batu-batuan,” katanya lagi. Saya
mengangguk sopan sebab, bagaimanapun, batu-batuan jarang sekali menjadi alasan
seseorang mempercepat langkah.
Jejak hujan
masih menyisakan udara dingin yang kami hadapi sekitar 15 menit perjalanan. “Nggak
mau foto di sini?” kata Rika dan Anis, sambil menunjuk spot foto di halaman depan
dengan latar papan bertulis Kopi Merapi. Saya menjawab tidak perlu foto karena minuman hangat jauh lebih menarik. Mereka mengenalkan menu andalalan di sana
berupa nasi teri, sate jamur, dan kacang tanah. Obrolan kami masih seputar skuter
dan rencana ritual ibadah besok Minggu.
Belum ada
obrolan rahasia sebagaimana kata Bu Hajjah. Ia hanya mengatakan bahwa, Jumat
lalu, ketika sedang menuju Kanisius untuk menyapa para jamaahnya, sudah bulat tekad mengunci rapat-rapat mulutnya terkait riset akhir yang sedang
ditulis, juga riset akhir yang sudah ditulis. Dan ia mengaku kedodoran sambil
merasa terpancing dengan satu-dua-hal sehingga cerita tersebut keluar tanpa
aling-aling. Demi Tuhan, ia menceritakannya dengan antusias, saya mendengarkan seperti
arkeolog yang menemukan fosil kegembiraan.
Aziwal
merebahkan tubuh sambil setengah meringkuk—adegan yang pasti membuat Rika ingin
bertukar kursi sebab punggunya tidak ditopang apapun. Tetapi ia menolak
bertukar tempat. Pada kondisi tertentu, orang memilih tidak mengatakan apa yang
ia inginkan.
Kami memutuskan
pulang ke tempat Anis ketika waktu sudah hampir petang. Saya memilih
tetap menjadi penumpang setia Aziwal. Ia menolak ketika saya tawari duduk
di belakang dan ia melawan rasa dingin. Rika juga pasti melawan
dingin yang sama. “Aku melambatkan laju kendaraan, tapi tidak ada tawaran untuk
bertukar posisi untuk para cowok yang nyetir,” kata Rika setelah tiba di tempat Anis
dengan menggigil sebab ia tidak memakai jaket—benda itu basah kuyup.
Saya mengambil sebongkah
guling dan setengah menyabetkannya ke kaki Marika. “Makanya bilang,” kata saya.
Rencana pergi
ke lestari tidak kami tunaikan sebab di tempat Anis, saya dan Aziwal sudah
mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan ketika kedinginan: kasur dan bantal.
Kami berbaring di ruang tamu yang cukup luas untuk menampung jamaah umroh satu
bus medium. Bu Hajjah mengeluarkan kasur tambahan dari kamarnya dan kami tidak
perlu apapun lagi. Aziwal, sambil membuka laptopnya; Bu Hajjah, sambil membuka
ponsel menyimak pertandingan MU VS Man City; Rika sambil membuka tablet untuk
mengecek pekerjaan kampusnya; semua menyimak Netflix di laptop saya yang
memutar Mens Rea, sebuah menu penutup malam Minggu.
Saya sempat
memejamkan mata, lantas membangunkan Aziwal untuk pulang ke tempatnya. Tidak
baik laki-laki menginap di sebuah rumah yang ditinggali dua perempuan, meski demikian,
sama seperti hari sebelumnya, trip Sabtu pagi tersebut berakhir hingga Minggu
dini hari. Saya baru tiba di tempat Aziwal kisaran pukul 01.00, lagi.
Hari terakhir adalah musuh bagi setiap pelancong.
Waktu, di Jokja,
yang biasanya berjalan santai seperti pengamen jalanan, tiba-tiba berubah
menjadi pelari sprint. Sekitar pukul 10.00 WIB kami berkumpul dengan barang kemas yang
sudah siap untuk terangkut pulang, lagi. Agenda pertama adalah menikmati bubur Hayam
Kota Baru sebagai menu sarapan dan warung sop iga yang saya incar terpaksa
harus dilewati sebab tempatnya cukup jauh, waktu tidak akan memberi diskon. Warung
Mbak Tari juga terlewati.
Di tempat itu
kami mulai merasakan waktu merayap cepat. Marika pasti mulai terbayang Banten
dan ruang kantor di UIN SMH yang jauh dari Jokja, dan lebih jauh dari rumahnya
di Jombang. “Tenang, Rik,” kata saya. “Kita agendakan umroh berikutnya. Jokja
masih menjadi koordinat tengah yang menyenangkan.” Matanya agak berbinar, menunjukkan
bahwa itu ide baik, seolah memberi isyarat bahwa bayangan murung-Banten bisa dihapus
dengan jadwal Jokja berikutnya. Pergi dan pulang, senang dan bahagia, kadang,
bisa setipis memupuk harapan.
Lestari—yang selalu
ditegaskan menjadi rumah kedua Marika—menjadi tujuan terakhir. Di sana Aziwal
membawa air doa Ibunya yang terbungkus botol kecil dan telah menempuh
perjalanan dari Lampung. Demi kepentingan terminologi umroh, kita bisa menyebutnya
air Zamzam. Hajjah Anis meminumnya beberapa teguk. “Eeemmmmhhh. Air suci.
Terima kasih, Ibuk,” katanya.
Berkat air
tersebut, sidangnya mungkin akan lancar-lancar saja.
Aziwal segera
melanjutkan revisi tesis, Marika masih berfungsi sebagai konsultan
dari naskah tersebut; saya membuka draft artikel yang harus segera terbit;
Bu Hajjah mulai menyusun template dan revisi bagian pendahuluan sebelum
menghadapi ruang ujian.
Makanan di Lestari
memang memanjakan lidah: udang keju dibungkus rasa nostalgia Marika. Saya
memesan jus pisang dan memakan buah yang dibeli Bu Hajjah dan Rika setelah
sebelumnya saya mengeluh belum makan buah sama sekali selama di tanah suci. Posisi
laptop beserta hal-hal yang menjadi buntutnya kian membuat jarum-waktu-sialan
makin berputar cepat.
Setelah kami
tiba di Lestari kisaran pukul 12.00, waktu tiba-tiba menunjukkan pukul 14.20-an.
Menurut admin P.O Handoyo, bus mereka akan membawa Nona Rika kisaran pukul
16.00, jarak Lestari-Terminal Jombor lumayan jauh sehingga persiapan perlu
diperhitungkan.
“Aku yang
antar,” kata saya. Ia menjawab lebih baik naik ojek online daripada merepotkan,
tetapi mudah mencegahnya “Supaya kelihatan punya teman,” kata saya. Sebenarnya
bukan soal punya atau tidak punya teman. Menuju tanah rantau kadang menyisakan
perasaan masygul: kita bisa merasa tiba-tiba terasing saat masuk kendaraan yang
membawa kita ke tanah rantau. Dan diantar teman, biasanya, membuat perpisahan
terasa sedikit lebih ramah, seolah kesepian diberi jeda.
Saya menepuk tas ranselnya dan bilang hati-hati saat ia masuk ke dalam bus. “Nggak boleh nangis, ya,” tulis saya di ruang chat. Nanti, Rika akan tiba di Banten kisaran pukul 09.00-an hari Senin, dan ia mengirim kabar sudah menjalankan tugas sebagai sekretaris sidang skripsi pukul 10.30 lebih dan saya menyarankan menambah jam tidur malam. Saya sendiri tiba di Surabaya-Gubeng pukul 00.40, Senin.
Setelah mengantar Rika ke Jombor, butuh
waktu sekitar 25 menit untuk kembali tiba di Lestari, sedikit tersesat dan menelusuri
jalanan sendirian di kota asing, dengan baterai ponsel nyaris habis memberikan sensasi agak tegang. Dari Lestari, Hajjah Anis memberikan penawaran makan
penyetan di kedai makan SS yang jaraknya cukup ditempuh 10 menit kurang, dengan penawaran menu super lengkap yang sulit ditolak. Kemangi gorang
pesanan Aziwal terasa sesedap kebahagian tiga hari terakhir.
Waktu
menunjukkan pukul 18.47 ketika kami kembali ke Lestari mengambil barang-barang,
sedangkan jalanan Jokja terpantau cukup padat karena ada pertandingan bola di
stadion, sebuah tempat di Jokja, selain menjadi arena sepak bola, juga menjual
durian murah padahal wujudnya besar-besar. Aziwal masih salat dan saya sudah
siap menjemput kereta yang berangkat pukul 19.29 tepat. Semoga terkejar.
Suporter bola
membuat jalanan agak melambat, tetapi Aziwal tetap dengan ketenangan tingkat tinggi
enggan menarik tuas gas dalam-dalam, sambil bercerita di jalan ini ada ini, di
jalan itu ada itu, dan di sisi sana ada hal menarik; ketenangannya mirip elang
di tengah badai—dan ia taat lalu lintas. Pukul 19.22, kami terhenti oleh palang
kereta, saya melihat rangkaian gerbong dan di sana tertulis: Pasundan.
Itu kereta
saya. Ia tampak sedang mengejek saya.
Begitu palang
kereta terbuka saya meminta Aziwal segera merapat dan memohon untuk
stanby karena ada masalah tentang boarding, mungkin itu akan menghambat proses
masuk kereta; mungkin itu membuat saya gagal naik. Saya segera lari ke pintu
masuk dan keliru masuk gate kereta lokal. Setelah putar balik, petugas
memanggil: Pasundan! Pasundan! Pasundan!
Saya menyeranhkan
ponsel yang langsung ia tempelkan ke layar pemindai. “Langsung masuk saja,” katanya.
Pukul 19.26
saya berkabar ke Aziwal kalau semua baik-baik saja. Ia mengucap terima kasih
karena sudah mampir ke Jokja; ia memberi instruksi untuk main lagi; ia berharap
saya menikmati perjalanan kereta ini. Saya membalas
seperlunya, masih menarik napas pelan-pelan, seperti orang yang baru saja
menuntaskan sesuatu tanpa tahu persis apa namanya. Tetapi Tuhan tahu, kepada
Nona Rika, Bu Hajjah Anis, dan Aziwal, saya mengucap terima kasih karena tiga
hari itu sungguh terasa seperti ibadah—aneh, keliru tempat, namun entah mengapa
menenangkan.
Di luar jendela kereta, Jokja bergerak mundur, menjauh, membawa
serta patung Bunda Maria, skuter Teletubbies, soto batok, dan seluruh kelakar
yang sejak awal Januari sudah dipersiapkan tanpa kami sadari. Saya tersenyum,
lalu teringat ucapan selamat datang dari Anis. Barangkali benar: ini memang tanah
suci, hanya saja alamatnya sedikit melenceng, dan ibadahnya salah tempat,
tetapi niatnya terasa
sampai. Pahalanya adalah kegembiraan yang bertahan lama, dan dosanya—seperti
biasa—biar dicatat di tempat lain.
