Senin, 01 Juni 2026

Fragmen #1: Kartografer

Kartografer itu memiliki kebiasaan yang sulit dijelaskan: ketika orang lain mengunjungi sebuah kota, mereka biasanya pulang membawa foto, sedangkan ia pulang membawa pertanyaan. Mengapa jalan ini dibuat sedikit melengkung? Mengapa pasar dibangun di sisi timur sungai? Mengapa sebuah gang sempit tiba-tiba berakhir di lapangan yang terlalu luas?


Baginya, setiap tempat menyimpan logikanya sendiri dan sudah menjadi tugas seorang kartografer untuk memahami alasan jalan itu ada, di samping, tentu saja, menggambarnya.


Itulah sebabnya ia menyukai peta-peta lama, meski sebagian besar terfonis salah dan gagal. Ia sadar, peta klasik adalah benda yang dibuat oleh orang-orang yang berani menebak dunia sebelum dunia benar-benar dipahami.


Di kamar kerjanya tergantung sebuah peta laut yang berusia ratusan tahun. Pada salah satu sudutnya terdapat gambar makhluk aneh berkepala singa dan berekor ikan.


“Karena mereka belum tahu apa yang ada di sana,” katanya suatu kali.


“Makanya digambar monster?”


“Ya.”


“Padahal monsternya tidak ada.”


Kartografer itu tersenyum, sebelum melanjutkan, “Itu justru yang menarik. Kadang manusia lebih jujur saat menggambar ketidaktahuannya.”


Orang-orang menyukai percakapan semacam itu dengannya.


Ia mampu membuat hal-hal biasa terdengar lebih dalam daripada seharusnya. Tentang peta, kompas, dan arah angin; tentang mengapa sebagian orang selalu memilih jalan yang sama meskipun berkali-kali tersesat; tentang mengapa sebagian orang memilih jalan memutar meski tahu ada yang lebih dekat.


Namun, ada satu hal yang tidak selalu ia simpan dan tak pernah mengizinkan topik itu lolos dari mulutnya: dirinya sendiri.


Tidak ada yang tahu banyak tentang kehidupannya. Ia hadir dalam berbagai pertemuan, tetapi jarang menjadi pusat cerita; ia mendengarkan lebih banyak daripada berbicara dan mengingat lebih banyak daripada yang diperlihatkan dan menyimpan jauh lebih banyak daripada yang diketahui orang lain. Mungkin karena itu orang sering merasa dekat tanpa pernah benar-benar mengenalnya.


Suatu malam, setelah hujan turun berjam-jam, ia sedang membereskan lemari arsip yang sudah lama tidak disentuh. Laci-laci tua berderit ketika dibuka. Kertas-kertas menguning bergeser satu demi satu. Catatan perjalanan menggelinding mengikuti arah terbukanya laci, disusul sketsa pelabuhan, potongan koran, dan beberapa peta yang tak pernah selesai.


Di bagian paling belakang, tersembunyi di bawah setumpuk berkas yang nyaris terlupakan, ia menemukan sebuah gulungan tipis diikat dengan tali kusam yang tak pernah asing meski lama tak terlihat dan ingatan atas isinya membuat tangannya berhenti seketika. Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali ia melihatnya. Perlahan ia membuka ikatan talinya. Kertas tua itu menggelinding di atas meja dan terhampar gambar sebuah pulau. Kecil. Terpencil. Tanpa nama.


Hanya ada satu catatan pendek yang ditulis dengan tinta yang mulai memudar. Kartografer itu membaca catatan tersebut untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Lalu duduk diam. Sangat lama. Di luar, hujan masih turun. Jam dinding terus berdetak dan pandangannya tidak lagi berada di ruang kerja itu sebab tulisan pudar yang ia lihat adalah penghuni lama dan tak perlu izin untuk merayap memenuhi kepalanya. Tanpa ampun. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh; sesuatu yang telah hilang; sesuatu yang selama ini ia berusaha tidak ingat.


Anehnya, dari seluruh tempat yang pernah ia petakan, hanya pulau itu yang tidak pernah berhasil ia lupakan.

 

Avunkulokal

 Membayangkan avunkulokal, tapi ibu tak punya saudara laki-laki.

Jumat, 29 Mei 2026

Melantur itu Penting

09.51

Saya membuka Microsoft Word dan mulai mengetik apa pun yang ada di dalam pikiran: penting atau tidak, bagus atau jelek, puitik atau berantakan, saya tak peduli. Semua yang ada dalam pikiran harus berbaris rapi untuk keluar, serupa prajurit yang menuju pantai; menuju ombak; menuju bunyi yang, kata Dee Lestari, paling putih untuk meleburkan segala kegaduhan duniawi.

 

09.54

Kamis, 21 Mei 2026, semua deadline berjejalan masuk seolah mereka tersedot hukum gravitasi, menuju satu titik, dan, yang bertanggung jawab, kepala saya. Ada borang—lagi dan lagi, lalu tiga jurnal yang sedang bersiap terbit dan naskahnya masih berantakan, lalu tugas kuliah, lalu tugas lain terkait fakultas, dan chat-chat dari berbagai penjuru—dan menuntut untuk segera dijawab. Ditambah, masa politik kampus sedang memanas.

 

Saya, entah mengapa, terlibat dalam semua rincian medan tersebut. Kepala saya makin memanas.

 

10.00

Jumat, 22 Mei 2026, suasana pikiran masih penuh dengan gemuruh, tidak ada jalan keluar meski semua sedang diusahakan terkejar. Saya menuju masjid kampus sendirian dengan kepala tertunduk dan ekspresi kosong. Saya melakukan perjalanan ke masjid lebih awal dari biasanya; suasana sendirian mungkin bisa mengendurkan ketegangan ini. Saya pun keluar dari masjid lebih lambat dari biasanya, sambil merenungkan… bagaimana mengembalikan senyuman ini?

 

10.04

Beberapa tahun lalu, tampaknya, adalah tahun yang terlihat menarik: saya menulis jadwal sehari-hari, dan isinya hanya belajar menulis, membaca, menulis, membaca, menulis, membaca. Jika ingatan saya tidak meleset, itu terjadi ketika awal tahun 2021, sebelum kuliah tingkat magister, setelah pulang dari Pare, Keidri. Di masa-masa itu, isi kepala lebih banyak terkuras untuk berpikir tentang apa yang perlu saya tulis di blog, apa data yang perlu saya cari, pikiran filsuf siapa yang relevan untuk diajak bercakap-cakap.

 

10.08

Anda tahu, di masa itu belum ada AI, atau jika ada, belum semasif sekarang—wong saya menulis tesis tanpa bantuan AI, baik dari narasi maupun data. Dan saya senang dengan fakta tersebut. Di masa itu juga, Tulisan-tulisan di media sosial tampak masih murni manusia: jika ia penulis bagus, maka tulisannya benar-benar bagus. Jika ia tidak bisa menulis, ia benar-benar tidak bisa menulis. Sekarang, kita dikelilingi oleh mesin.

 

10.11

Bagi saya, menulis esai adalah perkara sakral. Ia harus steril dari intervensi AI. Jika harus berlomba menulis esai dengan AI, saya masih merasa bisa menang. Ia cepat, saya lambat; ia efisien, saya lambat; ia mesin, saya manusia, dan itulah mengapa tulisan esai kami pasti berbeda, dan itulah mengapa tulisan mesin hampir sama.

 

Secara umum, saya tidak perlu menggunakan detektor AI untuk mengetahui apakah sebuah tulisan dihasilkan oleh si empu atau AI—khusus untuk orang yang kenal. Biasanya, saya dapat mengenali tulisan teman saya tanpa bantuan detektor AI. Setiap manusia memiliki sidik jari tulisannya sendiri. Seluruh aspek yang khas, atau, sebaliknya, seluruh aspek yang terasa belum matang. Belakangan, banyak teman-teman saya menggunakan tulisan hasil mesin: tak bernyawa. Pembaca awam tak akan mengenalinya, tetapi siapapun yang menekuri kalimat sejak lama, dan mengenal sidik jari seorang teman, tak butuh waktu lama untuk mendeteksi.

 

10.15

Kita dikepung oleh tulisan mesin. Ajaibnya, itu tidak mengurangi intensitas pekerjaan. Padahal, saya sudah banyak menggunakan AI untuk mengerjakan tugas-tugas administrasi, tetapi semakin banyak tugas selesai, semakin banyak tagihan yang muncul. Dan banyak hal membuat kita tak bisa beranjak dari sebuah tempat. Kita terpenjara—mungkin dalam arti harfiah. Anda tahu, tempat yang tidak kita tinggalkan adalah penjara, bukan?

 

10.18

Sebagian penjara mungkin akan membuat kita tumbuh, sebagian membuat kita makin tersiksa—tetapi kita harus tetap berpura-pura baik-baik saja, bukan kepada orang lain, tetapi kepada diri sendiri. Bahkan ketika kita menjadi diri sendiri dalam kehidupan paling privat, manusia selalu berpura-pura menjadi diri sendiri.

 

Saya mengingat kalimat itu—entah siapa yang pertama kali mengucapnya. Belakangan, banyak hal menarik yang mudah terlupakan. Yang kita ingat hanya deadline, sebab manusia adalah mesin pemuas deadline.

 

10.21

Siapa deadline itu? Sosok yang membuat kita berpura-pura bahkan dalam kehidupan paling privat kita. Sebab ia sosok yang membuat kita tak mampu berpikir jernih lagi, dan kita berpura-pura baik-baik saja dengan perubahan diri kita yang semakin mekanis. Jika Anda ada di kampus, terutama di fakultas filsafat, dan mengatakan dengan sangat lantang bahwa 10 tahun lagi Anda akan menjadi pemikir sekelas Sartre, atau Anda akan menjadi kritikus sekelas Pablo Neruda, Anda adalah mahasiswa normal.

 

Kampus adalah tempat di mana seseorang berusia 21 tahun, belum menyelesaikan skripsi, tetapi bisa yakin akan menjadi Sartre berikutnya.

 

10 tahun berikutnya, jika ternyata Anda bekerja di mesin kapitalisme yang serba cepat, Anda mungkin akan mengubur kalimat-kalimat Anda sendiri. Karena Anda berubah? Sepertinya tidak, itu hanya efek api yang semakin diredupkan oleh berbagai kegiatan mekanis, dari mengisi rumus-rumus Exel, hingga mencatat notulensi rapat yang mungkin tidak akan pernah dibaca kembali. Orang bisa melakukan sesuatu yang sangat penting, dengan ekspresi orang penting, meski yang ia lakukan adalah memindah map dari meja administrasi menuju meja makan.

 

Lupakan. Intinya, kapitalisme bisa mengubah calon filsuf kita menjadi orang yang sibuk seperti mesin fotokopi.  

 

Demi tuhan (dengan t kecil), panjang umur pikiran Karl Marx.

 

10.29

Sekarang hari Jumat, 29 Mei 2026, deadline masih belum mereda, chat-chat masih berjejalan, tetapi dua hari ini saya memilih untuk tidur, mengistirahatkan pikiran, dan mencoba untuk melihat diri sendiri di masa lalu, melalui blog ini.

 

Ada diri sendiri yang tampak ringan sekali bercakap-cakap dengan Erich Fromm, untuk membahas hal-hal remeh sehari-hari. Ada diri sendiri yang tampak akrab mengutip Nietzsche demi mengurai satu masalah di sekitar. Ada Manuel Castell di beberapa bagian. Ada beberapa bacaan buku yang terolah sedemikian rupa.

 

10.33

Tampaknya, diri sendiri di masa lalu memang lebih banyak memikirkan hal-hal yang hanya bisa dipikirkan ketika kondisinya masih tidak menghadapi borang, beberapa jurnal, dan politik. Tetapi, diri sendiri akan mengatakan pada diri sendiri versi hari ini, untuk tetap berjalan, tertatih, babak belur, dan sesekali mengusap keringat mata.

 

Masih ada riset doktoral yang perlu dipikirkan. Dan jangan menjadi doktor gadungan yang tidak memahami apa itu riset yang bagus. Tolong tanyakan kepada doktor yang Anda kenal, apa itu riset yang bagus. Jika jawabannya bagus, ia layak menjadi doktor asli—bukan gadungan.

 

Di Indonesia, Anda tahu, terlalu banyak sosok gadungan, baik untuk konteks politik, agama, maupun kampus.

 

10.37

Apa itu riset baik? Ialah riset yang tidak akan terjadi jika Anda tidak melakukannya.

 

10.38

Ya, wahai diri sendiri, kau perlu memikirkannya. Tetapi, sebelum itu, mari kita lihat dirimu hari ini. Mari, tatap baik-baik semua kerimutan deadline di depan mata ini, lalu, siapkan bantal dan tarik selimut dengan khidmat.


Berbidai-bidai

Kenapa kami berbida-bidai?

Ya, karena menurut orang bijak, hidup itu harus pernah berbidai-bidai.

Selasa, 17 Februari 2026

Alokai

 Di sini alokai

Di sana alokai

Di mana-mana alokai

 

Adakah ia

Tidak bisa dihindari?

Jumat, 23 Januari 2026

Bagaimana Kami Menjalani Ibadah Umroh di Tanah yang Salah

“Selamat datang di tanah suci Yogyakarta,” kata Hajjah Anis.


Kami mengangkut terminologi ibadah sakral yang seharusnya dilakukan di gurun Arabia ke wilayah lembab  Yogyakarta dan, bagi kami, hal itu sekurangnya berbuntut satu hal: liburan kali ini berisi kelakar sejak dalam pikiran sehingga apapun yang terjadi hanya dapat dilihat sebagai ibadah yang keliru tempat: mengandung pahala dan dosa, menyenangkan bagi pikiran penat, dan jenaka lahir batin.


Rika sudah membahas tiket sejak awal Januari dan tanggal tujuh ia menanyakan apakah perlu segera CO tiket dan saya terpaksa berperan seperti nabi yang membawa kabar buruk. Saya melarang sebab pekerjaan masih sering mendarat mendadak. Bahkan, setelah tanggal sembilan saya berhasil memastikan bahwa liburan jilid II dapat ditunaikan, tarik-ulur masih terjadi: saya masih perlu memastikan kondisi rumah; sedangkan radang menyambut Rika.


Jarak Banten Jokja-sejauh 647 kilometer, angka kurang sopan untuk ditempuh dengan tenggorokan terbakar; itu adalah jarak yang cukup jauh untuk membuat orang sehat menjadi sakit, dan orang sakit menjadi pertapa.


Dulu, ketika ia pertama kali ke Yogyakarta dari Banten, saya mengirim pesan: “Jika kita, entah bagaimana, ada di Belgia, mungkin wilayah Brussels, angka 600-an KM bisa membuat kita berada di Pilsen, Republik Ceko, dengan melewati Jerman. Ada 3 negara. Secara teknis, sampean sedang melalui rute yang sama dengan menyebrang ke tiga negara: Jakarta, Bandung, Yogyakarta.”


Maka, untuk membuat segala tarik ulur menjadi ringan, saya menulis teks kepadanya: Semoga lancar perjalanan umroh ke Jokja ini [iya, saya menulisnya Jokja]. Sejak saat itu, kami resmi menjadi jamaah umroh yang sesat, dan kelakar umroh terus menggelinding hari demi hari hingga kami tiba di tanah Kanisius—Jumat sore menjelang malam—tempat di mana patung salib terpajang rapi bersama gambar Bunda Maria dan, tepat di kompleks itu, Hajjah Anis mengucap selamat datang di tanah suci.


“Aku tadi lewat Maospati,” kata saya—sebuah terminal di ujung timur Kabupaten rumah Anis. Mata saya baru pertama kali menangkap suasana jalanan di kota wilayah Anis: jalanan dua lajur diapit pepohonan rindang kanan-kiri yang bersekongkol membentuk terowongan dari daun-daun, sekali kereta memberi interupsi perjalanan dan kernet turun membeli kerupuk di pinggir jalan. Saya tidak dapat mendengar percakapan mereka tetapi wajah Ibu penjual bersinar saat uang berpindah tangan, mungkin itu rezeki pertamanya. [Meski… jika ada wajah yang muram ketika menerima rezeki, itu pantas diteliti sebagai keajaiban alam.]


Masuk pukul 09.12, setelah berhenti sarapan di Ngawi, pikiran mulai gelisah disertai pertanyaan rasional: kenapa bus non-ekonomi ini tidak masuk jalur tol? Tampaknya mereka memilki definisi “cepat” yang berbeda dengan KBBI dan belum diakui hukum fisika. Saya berharap Pak Sopir membelokkan bus masuk tol, lalu melesat seperti peluru.


Padahal saya standby di terminal kisaran pukul 03.00 dini hari, dengan optimisme khas orang yang belum dikecewakan. Armada Patas/Cepat arah Jokja baru masuk parkir pukul 03.30, dan berangkat pukul 04.50. Target tiba di Jokja pukul 10.00 mulai tampak seperti legenda urban ketika sopir memilih jalur bawah sepanjang hutan Ngawi, seolah ingin memastikan saya berkenalan dulu dengan pepohonan jati sebelum masuk kota.


Pukul 12.22 saya mendarat di Janti dan fikih Syafi’iyah memberikan keringanan mengganti salat Jumat dengan salat Zuhur jika pergi sebelum subuh. Saya berharap pergi ke terminal tetap tehitung berangkat-sebelum-subuh sebab kadang hukum fikih bisa melentur dengan beberapa kaidah-syarat. Tuhan tahu betapa lambatnya bus Eka Cepat hari itu. Bagaimanapun ini perjalanan umroh lokal dan hal-hal detail terkait ibadah—termasuk pergi sebelum subuh—harus saya perhatikan. Apa kata Hajjah Anis nanti jika saya tidak macak religius?


Beberapa kali Rika menanyakan apakah saya perlu berbaring dulu, ia menadapat jawaban template berkali-kali bahwa tubuh saya tidak perlu istirahat siang. Saya dibawa ke tempat Aziwal—setelah membeli es teler tanpa durian—tuan rumah kami bukan “dureners”—dan mendapati sebuah ruangan puitis: sisi dinding di atas meja terpajang gambar-gambar luapan emosi yang tampaknya lama terpenjara di pikiran perupanya; sisi lain berisi aksesoris dan baju; sisi lain terparkir sebuah gitar; sisi lain berjejer sebuah buku, dan di atasnya: patung Bunda Maria yang menghadap kiblat, pemandangan yang membuat bingung malaikat pencatat amal.


“Jadi kalau Aziwal solat, Bunda Maria jamaah, ia berada di belakang Aziwal,” kata Anis suatu waktu, dan saya membalasnya dengan tawa besar, membayangkan bentuk ibadah combo keduanya.


Aziwal menceritakan detik-detik pembelian patung Bunda. Ia kebingungan setelah membeli benda sakral tersebut, tepatnya ketika hendak memasukkan Bunda Maria ke dalam tas saat berada di depan kasir. “Aku khawatir itu menyakiti perasaan penjaga kasir,” katanya. Aziwal berusaha menyembunyikan identitas agamanya, berlagak seolah ia adalah domba yang taat dari kawanan yang sama. Upaya yang sia-sia. Ia membayar via dompet digital dan terpampang jelas nama depannya: Muhammad.


Tentang mengapa seorang Muhammad membeli patung Bunda Maria, biarkan saja menjadi cerita tertutup.


Di tempat Aziwal membeli patung tersebutlah mereka membawa saya nongkrong di Jumat hari pertama umroh ke Jokja. Kami—saya, Aziwal, Rika—tiba sore hari di Kanisius setelah bebersih badan dan menghabiskan beberapa telur gulung. “Harus masuk ke toko buku paling tenang,” kata Rika, dengan nada orang yang tahu bahwa ketenangan adalah kebutuhan, dan bahwa toko buku adalah satu-satunya tempat umum yang masih percaya pada keheningan.


Di sana terdapat beberapa koleksi buku yang sudah terparkir dalam rak buku di rumah. Aziwal melihat rak dan etalase aksesoris hingga saya menebak-nebak apakah ia berniat membeli patung-patung lain. Setelah menyapu rak demi rak, mata ini melihat judul Sari Sejarah Filsafat Barat dan langsung mendeklarasikan diri di depan teman-teman: “Aku mau nulis Sari Filsafat Islam, sepertinya itu belum ada.”


Pandangan mata saya tersedot pada lukisan replika The Last Supper. Saya merasa sangat mengenali karya ini berkat Dan Brown dalam bukunya Da Vinci Code: novel yang membuat banyak orang merasa lulus kuliah teologi, sejarah, dan simbolisme sekaligus. Dalam karya fiksi menegangkan ini, kita tahu, sosok di sebelah kanan Yesus itu adalah perempuan, bernama Maria Magdalena, alih-alih Yohanes sebagaimana anggapan orang banyak. Apakah itu benar? Aziwal mungkin bisa menjawabnya.


“Tolong fotokan sama Yesus, Rik,” pinta saya. Potret bersama dua Yesus berhasil tersimpan di galeri ponsel, bukti otentik dari toleransi yang semoga tak kebablasan.


Kami bergeser ke kedai. Kedua sahabat bestari saya mengeluarkan alat tempur mereka masing-masing. Saya mengirim link G-Meet kepada mahasiswa dan kami berdua terlibat diskusi singkat. Aziwal menghadap laptop sambil membahas entah apa bersama Rika. Anis tiba beberapa jam kemudian. Formasi sudah lengkap dan kami membahas sesuatu yang harus membuat kami tertawa—apapun itu.


Kali ini, kami memasrahkan diri kepada Hajjah Anis untuk membimbing jamaah umroh ke tempat-tempat suci dan membahagiakan. Ia memutuskan: besok naik skuter, lalu pulangnya mampir ke Kopi Merapi. Kami beriman kepada tawaran tersebut sebab Bu Hajjah sudah tinggal bertahun-tahun dan ia kader organik dari muslimat NU: kadar orang Jokjanya meyakinkan meski bisa kesasar di Jokja; kadar religiusnya tidak diragukan lagi; kadar intelektualnya? Oh: Ia menghabiskan beberapa usianya untuk mencicipi dua program studi pada level magister: Islam Nusantara dan Sosiologi Agama.


Dari Anis, ide naik skuter muncul. Jadi, kita bisa menganggapnya saran Islamis yang sosiologis, atau saran sosiologis yang agamis.


“Apa teori sosial yang paling sulit, Ning?” tanya saya, sebuah pertanyaan yang tampak ringan, tetapi lahir dari pergulatan setelah semester lalu saya menghadapi mata kuliah Islam dan Teori-Teori Sosial. Pertanyaan kecil itu berbuntut panjang hingga Bu Hajjah memberikan kuliah menyenangkan tentang riset akhirnya, baik di Islam Nusantara maupun Sosiologi Agama. Ia mengenal Teun Van Dijk sebaik ia mengenal Teun Van Dijk.  


Jika ia lelaki, saya akan menepuk pundaknya dan berkata ia keren. Oya, saya tidak menepuk pundak Aziwal tentang riset segar yang ia tulis tentang terapi seni—saya tahu juga berdasarkan obrolan tak sengaja terkait gambar garis siluet [dan hanya garis siluet] seorang manusia yang menempelkan kedua telapak tangannya pada tembok-kaca-penjara, seolah meratap ingin keluar. Saya takjub pada gambar di kamar Aziwal dan ia menjawab itu buah goresan tangannya. “Kereen,” kata saya. Dan kami sedikit berbincang tentang Van Gogh meski saya tak paham arti karya besarnya.


Percakapan tentang gambar tersebut terjadi Minggu pagi, hari terakhir saya di Jokja, ialah sebuah pagi di mana saya tidak perlu membangunkan Aziwal. Di hari sebelumnya, Sabtu pagi, saya membangunkannya pukul 08.00 WIB, waktu yang mungkin terlalu subuh bagi kawan-kawan Jokja saya. Tetapi, di hari Sabtu, kami memang tidur hanya beberapa jam, sebab Jumat sore di Kanisius harus bersambung hingga Sabtu dini hari.


Ketika detik-detik kedai akan tutup, air hujan turun, dengan semangat kerinduan 1000 tahun kepada tanah bumi. Kami terjebak di sana hingga hari Sabtu pukul 01.00 dini hari, dan memejamkan mata pukul 01.17, Aziwal baru tidur setelah azan subuh—itu normal baginya. Lantas kami berangkat pukul 08.48 menuju tempat Bu Hajjah, demi menyelamatkan perut yang entah kenapa di hari itu meminta sarapan pagi. Soto Batok rekomendasi Hajjah Anis menjadi menu menyegarkan.


Kami berangkat ke tempat skuter, menempuh waktu kisaran 40 menit. Ketika kami tiba di sekitar lokasi dan mendapati orang-orang naik skuter, muncul keraguan di pikiran: bagi orang yang sudah merasakan berbagai jenis motor, berbagai jenis mobil, apa serunya naik skuter yang desainnya dicuri dari lokasi syuting Teletubbies? “Aku nggak mau naik di jalan, males, cukup di area dalam saja,” kata Aziwal. Saya setuju dan hendak mengikutinya.


Weekend itu banyak wisatawan menyerbu unit skuter hingga kami harus antre sekitar satu jam. Kami sepakat untuk mencari kedai tempat nongkrong dan baru kisaran 5-10 meter berjalan, Aziwal sudah berbelok ke sebuah tempat menyenangkan untuk ngobrol. Di Jokja, Anda tahu, kita bisa kesandung warkop, bukan batu. Satu jam bukan persoalan besar bagi sekawan wisatawan yang bisa saling melempar humor.


Sebelum waktu persis menunjuk satu jam, kami memilih memasuki area taman skuter. Persis ketika nama Anis dipanggil, mendung mulai memeluk erat langit kami. “Pernah naik skuter?” kata penjaganya. Kami menjawab belum dan Mas-Petugas memberikan instruksi singkat. Posisi Mas-Petugas dan Aziwal berhadapan, tetapi kawan saya terpaku dengan wajah kosong tanpa fokus, seolah sedang mendengarkan khotbah Jumat dalam bahasa Tagalog.


Saya dan Anis langsung tancap gas, sementara Aziwal mematung beberapa detik seperti tak tahu akan seperti apa memperlakukan benda tersebut. Ia meneriaki kami untuk bertanya bagaimana memakai kendaraan Teletubbies ini, sedangkan saya dan Anis mulai melesat jauh.


Astaga, benda ini tidak seburuk yang saya kira. Skuter Teletubbies jelas bukan vespa sprint tahun 1973 yang pernah saya miliki di usia remaja; ia bukan Satria FU yang bisa digeber 140 KM/h; ia bukan Innova Reborn senyap yang stabil melibas lubang di lintasan pantura, tetapi skuter ini—yang dipakai dengan helm tukang bangunan berwarna putih dan membuat kepala kami terlihat seperti telur rebus setengah matang—mudah sekali memberikan perasaan gembira.


Dan Tuhan, yang memiliki selera humor luar biasa, menurukan hujan dengan kadar kerinduan 1200 tahun kepada tanah bumi. Di pojok utara [atau timur? Atau barat? Entah…] Anis menemukan tempat berteduh, ialah bagian belakang MCK yang hanya menyisakan 60 cm atap menyamping di atas. Di sanalah keajaiban terjadi: kami tertawa: menertawai nasib aneh, menertawai helm telur rebus, dan menertawai kekagokan Aziwal menjadi bagian dari Teletubbies.


Jarang sekali, bagi saya, berteduh dari hujan bisa semenyenangkan itu. Bahkan satu jam berteduh bisa terlalui dengan baik-baik saja: kami masih hidup sebagai manusia bahagia. Ibadah tawaf kami lanjutkan dan instruksi Bu Hajjah terasa kami dengar berulang-ulang, ialah berbaris rapi membentuk kereta empat gerbong melewati kamera yang terpasang sehingga momen tawaf ini bisa estetik. Tentu saja kami tidak memberikan Bu Hajjah kemudahan taat atas fatwanya, sebab rasanya menyenangkan sekali mengendalikan benda ini sesuka hati.


Rika kehilangan sedikit kendali dan hampir menabrak Teletubbies lain sembari minta maaf sementara skuternya tetap berjalan sehingga memicu tawa Aziwal—yang beberapa kali melewati kamera dan berkelakar “hidup Jokowi!” Sementara Hajjah Anis? Masih berusaha memberikan bimbingan rohani yang baik dan benar tentang tawaf-berbaris-rapi. Itu terjadi, tapi dengan kehendak kami masing-masing.


Skuter Teletubbies memberikan kejutan lain saat saya menyetujui tawaran Bu Hajjah. “Oke, mari kita coba jalanan aspal bukit,” kata saya. Skuter tersebut makin cepat ketika melewati jalan turunan dan ia memberikan sensasi unik seolah berada dalam kecepatan 140 KM/h. Tubuh saya dipaksa menjaga keseimbangan dengan konsentrasi penuh, seperti filsuf yang tiba-tiba diuji di laboratorium fisika. Helm telur rebus yang setia melindungi batok bagian atas kepala dan selebihnya berserah pada takdir terasa kurang meyakinkan jika harus bernegosiasi dengan aspal. “Kurang keras teriaknya, ayo lebih lepas lagi,” kata Anis.


Jelajah skuter memakan durasi waktu sekitar satu jam, dan dua jam jika ditambah berteduh dari hujan, dan tiga jam jika dihitung dengan ngopi. Saatnya bergeser ke Kopi Merapi, “Sebuah tempat di mana apa yang tak terkatakan bisa keluar semua,” kata Anis. “Ada view gunung Merapi, jika tidak ada kabut,” kata Rika. Itu tawaran-tawaran provokatif untuk saya bisa semangat ke sana. “Ada batu-batuan,” katanya lagi. Saya mengangguk sopan sebab, bagaimanapun, batu-batuan jarang sekali menjadi alasan seseorang mempercepat langkah.


Jejak hujan masih menyisakan udara dingin yang kami hadapi sekitar 15 menit perjalanan. “Nggak mau foto di sini?” kata Rika dan Anis, sambil menunjuk spot foto di halaman depan dengan latar papan bertulis Kopi Merapi. Saya menjawab tidak perlu foto karena minuman hangat jauh lebih menarik. Mereka mengenalkan menu andalalan di sana berupa nasi teri, sate jamur, dan kacang tanah. Obrolan kami masih seputar skuter dan rencana ritual ibadah besok Minggu.


Belum ada obrolan rahasia sebagaimana kata Bu Hajjah. Ia hanya mengatakan bahwa, Jumat lalu, ketika sedang menuju Kanisius untuk menyapa para jamaahnya, sudah bulat tekad mengunci rapat-rapat mulutnya terkait riset akhir yang sedang ditulis, juga riset akhir yang sudah ditulis. Dan ia mengaku kedodoran sambil merasa terpancing dengan satu-dua-hal sehingga cerita tersebut keluar tanpa aling-aling. Demi Tuhan, ia menceritakannya dengan antusias, saya mendengarkan seperti arkeolog yang menemukan fosil kegembiraan.


Aziwal merebahkan tubuh sambil setengah meringkuk—adegan yang pasti membuat Rika ingin bertukar kursi sebab punggunya tidak ditopang apapun. Tetapi ia menolak bertukar tempat. Pada kondisi tertentu, orang memilih tidak mengatakan apa yang ia inginkan.


Kami memutuskan pulang ke tempat Anis ketika waktu sudah hampir petang. Saya memilih tetap menjadi penumpang setia Aziwal. Ia menolak ketika saya tawari duduk di belakang dan ia melawan rasa dingin. Rika juga pasti melawan dingin yang sama. “Aku melambatkan laju kendaraan, tapi tidak ada tawaran untuk bertukar posisi untuk para cowok yang nyetir,” kata Rika setelah tiba di tempat Anis dengan menggigil sebab ia tidak memakai jaket—benda itu basah kuyup.


Saya mengambil sebongkah guling dan setengah menyabetkannya ke kaki Marika. “Makanya bilang,” kata saya.


Rencana pergi ke lestari tidak kami tunaikan sebab di tempat Anis, saya dan Aziwal sudah mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan ketika kedinginan: kasur dan bantal. Kami berbaring di ruang tamu yang cukup luas untuk menampung jamaah umroh satu bus medium. Bu Hajjah mengeluarkan kasur tambahan dari kamarnya dan kami tidak perlu apapun lagi. Aziwal, sambil membuka laptopnya; Bu Hajjah, sambil membuka ponsel menyimak pertandingan MU VS Man City; Rika sambil membuka tablet untuk mengecek pekerjaan kampusnya; semua menyimak Netflix di laptop saya yang memutar Mens Rea, sebuah menu penutup malam Minggu.


Saya sempat memejamkan mata, lantas membangunkan Aziwal untuk pulang ke tempatnya. Tidak baik laki-laki menginap di sebuah rumah yang ditinggali dua perempuan, meski demikian, sama seperti hari sebelumnya, trip Sabtu pagi tersebut berakhir hingga Minggu dini hari. Saya baru tiba di tempat Aziwal kisaran pukul 01.00, lagi.


Hari terakhir adalah musuh bagi setiap pelancong. Waktu, di Jokja, yang biasanya berjalan santai seperti pengamen jalanan, tiba-tiba berubah menjadi pelari sprint. Sekitar pukul 10.00 WIB kami berkumpul dengan barang kemas yang sudah siap untuk terangkut pulang, lagi. Agenda pertama adalah menikmati bubur Hayam Kota Baru sebagai menu sarapan dan warung sop iga yang saya incar terpaksa harus dilewati sebab tempatnya cukup jauh, waktu tidak akan memberi diskon. Warung Mbak Tari juga terlewati.


Di tempat itu kami mulai merasakan waktu merayap cepat. Marika pasti mulai terbayang Banten dan ruang kantor di UIN SMH yang jauh dari Jokja, dan lebih jauh dari rumahnya di Jombang. “Tenang, Rik,” kata saya. “Kita agendakan umroh berikutnya. Jokja masih menjadi koordinat tengah yang menyenangkan.” Matanya agak berbinar, menunjukkan bahwa itu ide baik, seolah memberi isyarat bahwa bayangan murung-Banten bisa dihapus dengan jadwal Jokja berikutnya. Pergi dan pulang, senang dan bahagia, kadang, bisa setipis memupuk harapan.


Lestari—yang selalu ditegaskan menjadi rumah kedua Marika—menjadi tujuan terakhir. Di sana Aziwal membawa air doa Ibunya yang terbungkus botol kecil dan telah menempuh perjalanan dari Lampung. Demi kepentingan terminologi umroh, kita bisa menyebutnya air Zamzam. Hajjah Anis meminumnya beberapa teguk. “Eeemmmmhhh. Air suci. Terima kasih, Ibuk,” katanya.


Berkat air tersebut, sidangnya mungkin akan lancar-lancar saja.


Aziwal segera melanjutkan revisi tesis, Marika masih berfungsi sebagai konsultan dari naskah tersebut; saya membuka draft artikel yang harus segera terbit; Bu Hajjah mulai menyusun template dan revisi bagian pendahuluan sebelum menghadapi ruang ujian.


Makanan di Lestari memang memanjakan lidah: udang keju dibungkus rasa nostalgia Marika. Saya memesan jus pisang dan memakan buah yang dibeli Bu Hajjah dan Rika setelah sebelumnya saya mengeluh belum makan buah sama sekali selama di tanah suci. Posisi laptop beserta hal-hal yang menjadi buntutnya kian membuat jarum-waktu-sialan makin berputar cepat.


Setelah kami tiba di Lestari kisaran pukul 12.00, waktu tiba-tiba menunjukkan pukul 14.20-an. Menurut admin P.O Handoyo, bus mereka akan membawa Nona Rika kisaran pukul 16.00, jarak Lestari-Terminal Jombor lumayan jauh sehingga persiapan perlu diperhitungkan.


“Aku yang antar,” kata saya. Ia menjawab lebih baik naik ojek online daripada merepotkan, tetapi mudah mencegahnya “Supaya kelihatan punya teman,” kata saya. Sebenarnya bukan soal punya atau tidak punya teman. Menuju tanah rantau kadang menyisakan perasaan masygul: kita bisa merasa tiba-tiba terasing saat masuk kendaraan yang membawa kita ke tanah rantau. Dan diantar teman, biasanya, membuat perpisahan terasa sedikit lebih ramah, seolah kesepian diberi jeda.


Saya menepuk tas ranselnya dan bilang hati-hati saat ia masuk ke dalam bus. “Nggak boleh nangis, ya,” tulis saya di ruang chat. Nanti, Rika akan tiba di Banten kisaran pukul 09.00-an hari Senin, dan ia mengirim kabar sudah menjalankan tugas sebagai sekretaris sidang skripsi pukul 10.30 lebih dan saya menyarankan menambah jam tidur malam. Saya sendiri tiba di Surabaya-Gubeng pukul 00.40, Senin.


Setelah mengantar Rika ke Jombor, butuh waktu sekitar 25 menit untuk kembali tiba di Lestari, sedikit tersesat dan menelusuri jalanan sendirian di kota asing, dengan baterai ponsel nyaris habis memberikan sensasi agak tegang. Dari Lestari, Hajjah Anis memberikan penawaran makan penyetan di kedai makan SS yang jaraknya cukup ditempuh 10 menit kurang, dengan penawaran menu super lengkap yang sulit ditolak. Kemangi gorang pesanan Aziwal terasa sesedap kebahagian tiga hari terakhir.


Waktu menunjukkan pukul 18.47 ketika kami kembali ke Lestari mengambil barang-barang, sedangkan jalanan Jokja terpantau cukup padat karena ada pertandingan bola di stadion, sebuah tempat di Jokja, selain menjadi arena sepak bola, juga menjual durian murah padahal wujudnya besar-besar. Aziwal masih salat dan saya sudah siap menjemput kereta yang berangkat pukul 19.29 tepat. Semoga terkejar.


Suporter bola membuat jalanan agak melambat, tetapi Aziwal tetap dengan ketenangan tingkat tinggi enggan menarik tuas gas dalam-dalam, sambil bercerita di jalan ini ada ini, di jalan itu ada itu, dan di sisi sana ada hal menarik; ketenangannya mirip elang di tengah badai—dan ia taat lalu lintas. Pukul 19.22, kami terhenti oleh palang kereta, saya melihat rangkaian gerbong dan di sana tertulis: Pasundan.


Itu kereta saya. Ia tampak sedang mengejek saya.


Begitu palang kereta terbuka saya meminta Aziwal segera merapat dan memohon untuk stanby karena ada masalah tentang boarding, mungkin itu akan menghambat proses masuk kereta; mungkin itu membuat saya gagal naik. Saya segera lari ke pintu masuk dan keliru masuk gate kereta lokal. Setelah putar balik, petugas memanggil: Pasundan! Pasundan! Pasundan!


Saya menyeranhkan ponsel yang langsung ia tempelkan ke layar pemindai. “Langsung masuk saja,” katanya.


Pukul 19.26 saya berkabar ke Aziwal kalau semua baik-baik saja. Ia mengucap terima kasih karena sudah mampir ke Jokja; ia memberi instruksi untuk main lagi; ia berharap saya menikmati perjalanan kereta ini. Saya membalas seperlunya, masih menarik napas pelan-pelan, seperti orang yang baru saja menuntaskan sesuatu tanpa tahu persis apa namanya. Tetapi Tuhan tahu, kepada Nona Rika, Bu Hajjah Anis, dan Aziwal, saya mengucap terima kasih karena tiga hari itu sungguh terasa seperti ibadah—aneh, keliru tempat, namun entah mengapa menenangkan.


Di luar jendela kereta, Jokja bergerak mundur, menjauh, membawa serta patung Bunda Maria, skuter Teletubbies, soto batok, dan seluruh kelakar yang sejak awal Januari sudah dipersiapkan tanpa kami sadari. Saya tersenyum, lalu teringat ucapan selamat datang dari Anis. Barangkali benar: ini memang tanah suci, hanya saja alamatnya sedikit melenceng, dan ibadahnya salah tempat, tetapi niatnya terasa sampai. Pahalanya adalah kegembiraan yang bertahan lama, dan dosanya—seperti biasa—biar dicatat di tempat lain.