Pekan pertama hidup di Kampung Inggris, Pare, tidak ada satu pun orang yang saya kenal sehingga proses adaptasi cukup kagok. Mula-mula, ketika baru tiba, saya melihat area sekitar melalui Gmaps, lalu area itu saya telusuri jalan kaki. Beberapa hari setelah pekan pertama, seorang kawan yang tahu saya ada di Pare datang menjenguk. Kami pergi ke sebuah cafe, di tempat itulah dua orang lain—kawan dari kawan saya—telah menunggu. Akhirnya, setelah berhari-hari, saya menemukan kawan lama yang saling mengenal dengan baik. Di sela obrolan, mereka sempat memberi arahan bagaimana hidup di Pare.
Pekan kedua seorang kawan lain datang. Sebenarnya kami sepakat bertemu di Tebuireng tetapi jadwal bus teralu sore, maka ia lanjut ke Pare. Saya tidak enak hati sebab ia harus berkendara seorang diri dengan jarak cukup jauh. Ketika tiba, saya mengajaknya ke tempat yang udaranya sejuk dan kami cekikian seharian. Seorang kawan lain akan datang beberapa hari lagi. Ia masih menunggu pekerjaan berkurang.
Saya bersyukur dikelilingi kawan-kawan baik. Setelah sebulan lebih meninggalkan rumah untuk keluyuran, mereka membuat tempat-tempat yang saya kunjungi kian menarik. Dalam fase hidup yang sedang saya jalani, ruang pertemanan terasa lebih leluasa. Kami dapat bertemu tanpa prasangka, tanpa kecanggungan sosial, dan tanpa beban penjelasan kepada siapa pun.
